header Diary Jingga

Perjuangan Azalea 3

Posting Komentar

 


Tak lama Bu bidan datang tepat saat aku menelepon mama. Dia terheran-heran aku masih bicara setenang itu di telepon. 

"Ma, aku pendarahan. Boleh minta tolong sambungkan hp nya ke Bu bidan tetangga rumah mama."

"Iya, jangan ditutup yaa. Mama ini jalan ke rumah bu bidan" jawab mama gelagapan antara kaget, ngantuk baru bangun. 

"Iya Neng kenapa?" Sapa Bu bidan di seberang sana" 

"Bu, aku pendarahan ga berhenti, aku harus gimana. Barusan sudah minum pil penambah darah" 

"Obat dan vitamin dari ibu rutin diminum ga?" Aku terhenyak. Memang aku jarang memperhatikan suplemen vitamin selama kehamilanku. 

"Sekarang Neng, ada yang nolong ga di sana ada bidan ga?" 

"Ada Bu, ini Bu bidan Qori" aku melirik Bu bidan Qori yang tampak kesusahan memasukkan jarum infus ke tanganku.

"Oh iya itu teman ibu. Neng langsung dirujuk ke rumah sakit ya" 

"Iya Bu baik." 

Infus terpasang dengan susah karena nadiku susah teraba. Lemah. Bidan Qori dengan sabar dan telaten mencari jaringan darahku untuk menyuntikkan jarum infus. Setelah berhasil memasukkan jarum infus. Suamiku diminta menyiapkan mobil untuk membawaku ke rumah sakit. 

Mobil angkutan umum milik tetangga yang berhasil dipinjam. Ada bagusnya juga. Karena poisisiku harus tetap terlentang supaya darah tidak terus keluar. Aku dibaringkan di bawah karena jok atas tidak cukup untuk aku tiduri. 

Belum ada 500 meter mobil sudah mogok kehabisan bensin, untung tidak jauh ada pom bensin. Didoronglah mobil itu memasuki SPBU. Aku yang terombang-ambing oleh gerakannya menahan pusing yang teramat sangat. Seluruh isi perutku dikocok sampai keluar semua isinya. Aku payah. Lelah dan lemah. Tapi aku belum mau Menyerah.

Bersambung 😊

Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email