header Diary Jingga

IPA SIAPA TAKUT?

13 komentar

IPA Siapa takut? Itu adalah jargon untuk salah satu kelas binaanku yaitu kelas 7I. Dari kelas 7 A sampai 7J, aku menyiapkan jargon khusus pada pelajaran IPA yang ku ampu. Namun hanya kelas 7 I ini yang ada unsur kata  IPA, lainnya tak ada. Hanya jargon penyemangat seperti 7E, ketika aku panggil 7E, maka kompak mereka jawab "Eaaahhh" dengan semangat. 

Balik lagi ke kelas dengan jargon "IPA siapa takut" kelas ini adalah kelas yang paling menarik untuk diulas. Bukan karena semangat belajar IPA dari mereka yang antusias, tapi dinamika kelas dengan berbagai karakter yang luar biasa, sehingga aku sering mengelus dada hahahaha. Tapi so far so good, mereka mengikuti kelasku dengan antusias. Walau ga bisa diam. 

Akan aku ceritakan bagaimana definisi tak bisa diam mereka. Lalu  bagaimana pertama kali aku bertemu dengan mereka.  Hingga semenjengkelkan apapun sikap mereka, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum bukan marah. Eitss, tapi tunggu dulu. Semua butuh proses.  Yaa jelas ada prosesnya,  sebelum aku yang tadinya enggan masuk kelas itu karena terbebani, apalagi jam terakhir. Hingga akhirnya kini aku menikmati proses belajar dengan mereka. Yuks simak ceritaku, semoga menginspirasi. 

Awal tahun ajaran baru 2022-2023, yaitu Juli 2022, aku mulai ditugaskan sebagai ASN disalah satu sekolah negeri bernama SMP Negeri 1 Cikidang. Dari sinilah ceritaku dimulai. Sekolah dengan background perkebunan sawit yang hijau, dengan nuansa hijau asri pegunungan yang terletak disebuah kecamatan bernama Cikidang di belahan Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. 

Saat pertama mendapat SK penugasan, aku mengampu mata pelajaran IPA yang sesuai dengan linieritas pendidikanku. Hanya saja karena di sekolah ini juga ditinggalkan guru matematika yang diterima jadi ASN di sekolah lain maka akupun ditugasi untuk memegang mata pelajaran matematika untuk beberapa kelas. Tidak masalah, karena magisterku pun MIPA. Tapi karena belum terbiasa mengajar materinya, tentu aku harus belajar lagi. Dan itu seru. 

Tahun ini aku belum pegang kelas, maksudnya belum jadi walikelas. Namun, ada satu pengalaman yang membuatku akhirnya menulis cerita ini. Ya, cerita tentang kelas 7 I yang tidak sengaja kutemui diawal penjelajahanku di estucik (singkatan dari esmpe negeri satu Cikidang). 

Saat itu Pak Parlandi, rekanku yang menjadi walikelas 7I sedang sakit. Maka saat ada jadwal pengkondisian kelas, aku diminta masuk ke kelas 7 I untuk menemani mereka membuat kesepakatan kelas, membuat organigram sampai jadwal piket kelas. 

Singkat cerita masuklah aku ke kelas tersebut. Dengan semangat 45 dan wajah sumringah ala-ala orang yang baru dapat lotre, aku melenggang menyapa mereka. 

Seperti kebanyakan siswa-siswi baru mereka semua cenderung tertib dan mengikuti arahan dengan patuh dan semangat. Berbagai guyonan aku lontarkan agar mereka tidak canggung. Entah siapa yang salah, ku tak tahu hahahaha jadi inget lirik lagu di tiktok. Kok, lama kelamaan mereka jadi sedikit bar-bar wkwkwkwk. 

Yang perempuan mulai mengeluarkan semua pendapat, dan guyonan dengan suara yang riuh rendah. Yang laki-laki mulai gak bisa diam, mondar-mandir. It's oke, pikirku. Artinya mereka bisa mengikuti proses demokrasi dengan baik dalam pemilihan ketua kelas. Yapp, walaupun kelas kayak pasar hahahaha. 

Terpilih juga ketua kelas dari hasil menggait hati teman-teman mereka dengan kampanyenya. Yaitu, Haikal yang menjadi ketua kelas dan Rachel yang awalnya menjadi rivalnya bisa jadi  wakil ketua kelas yang bertanggung jawab

Awalnya aku kira semua akan baik-baik saja. Seperti harapan guru-guru pada umumnya, akupun ingin kelas ini tertib mengikuti semua pelajaran, terutama mata pelajaran yang aku ampu. Tapi cerita tak usai sampai disitu, ada drama-drama lanjutan menyelingi kekocakan kelas ini, Hahahaha. 

Ada Sila Putri Desa yang cerewetnya gak ketulungan. Ada Rafa yang jahil dan seneng bikin siswi nangis. Ada Fathir yang gak betah duduk lama di kursi. Ada Latip yang benci nulis apalagi suruh baca. Ada Haikal si ganteng kalem ketua kelas yang selalu merasa gagal menertibkan kelasnya. 

Rachel yang perlahan tapi pasti mengukir prestasi. Dan ada Keyzha yang siap antar jemput guru ke ruangannya, Si paling minta tugas kalau guru gak masuk kelas. Tapi nelangsanya dia pasti diomelin temen-temennya karena sok rajin hahahaha. Oiya ada satu lagi yang namanya nyangkut di otakku yaitu Tahta Pusaka Mulia yang pinter gambar, noted yaa Tata ini cewek alias perempuan. Unik ya namanya. 

Itulah sebagian kecil dari dinamisnya kelas ini. Dengan berbagai tipe belajar yang macam-macam, dan motivasi belajar yang tidak stabil aku mulai melakukan asesmen untuk kelas ini. Melawan rasa malasku sendiri saat masuk kelas ini. Karena bukan tanpa alasan aku mengeluh. 

Hari pertama aku mengajar dikelas ini, mereka bikin naik darah. Si Rafa menghapus catatan Keyzha yang sudah rapi ditulis dengan tipe-ex yang belepotan. Coba, siapa yang gak nangis. Sudah nulis capek-capek dibikin serapih mungkin ehh dicorat-coret ditutupi dengan cairan tipe-ex alhasil buku yang tadinya rapi jali jadi berantakan kusut dan basah sama Seember tipe-ex. 

Siswinya pada ngegosip ngobrol ngalor ngidul. Mending pelan, ini keras sampai terdengar ke meja guru cekikikannya. Siswanya keluar masuk bangku ganggu siswi perempuan rebut balpen lah, jitak kepala temen laki-laki lain lah. Dan haloo itu aku ada di depan. Sedang berdiri mau memulai pelajaran. Apa rasanya coba tebak? 

Pengen menghilang dari bumi, lalu bom itu kelas biar senyap hahahaha. Tapi gak mungkinlah aku kan guru bukan teroris wkwkwk. Aku tarik nafas panjang, aku suruh otakku mengumpulkan stok sabar yang kupunya. 

"Oke, kalau kalian ga bisa menyimak ibu karena berjauhan, yuk kita merapat" 

Akhirnya aku menyuruh mereka untuk mendekatiku keluar dari bangkunya. Membuat lingkaran di lantai. Aku di tengah menjadi objek penderita, hahahaha. Pelajaran IPA pertama tak berhasil. Aku putar arah, membelok dari materi IPA ke hal nyeleneh lain yaitu ngobrol sama mereka sambil duduk melingkar. 

Wowww, setelah dikasih kesempatan untuk bicara pun energi mereka masih berlebih, bicara ga mau gantian saling teriak ga mau kalah dan saling menyalahkan. Ada yang masih cuek jahilin temannya, berdiri, jalan, tetap gak bisa diam walau difasilitasi. Kalau seperti ini, rasanya ingin cepat pensiun jadi guru hahahaha. 

Ngobrol dari hati ke hati pun gak berhasil. Akhirnya aku mengangkat bendera putih untuk saat itu. Aku menyerah untuk hari ini. Mungkin besok ada jalan lain menuju Roma. Batinku merana. Aku pura-pura merajuk marah pada mereka. 

"Ibu keluar saja kalau kalian tidak mau diatur" seruku sambil bangkit berdiri lalu keluar kelas sambil cemberut.  Kalian pembaca berharap mereka mengejar dan minta maaf kan? Lalu jadi happy ending. Hahahaha Tentu tidak Ferguso, sayangnya mereka gak ngejar hanya sibuk saling menyalahkan dan tambah berisik. Aku lunglai, walikelas mereka masih sakit jadi aku belum bisa mengadu. 

Beberapa pertemuan selanjutnya pada pelajaranku, entah karena mereka merasa sudah dekat denganku atau bagi mereka aku bukan sosok guru galak yaa akhirnya beberapa dari mereka cenderung terkesan kurang ajar dan susah untuk diarahkan. Ya, beberapa pertemuan selanjutnya aku sangat malas ke kelas itu apalagi jam terakhir. 

Tapi jangan dikira aku menyerah ya. Sambil memikirkan strategi pembelajaran untuk kelas itu, aku mencoba mendekati mereka secara personal. Pertama aku dekati dan ajak ngobrol Fathir yang aku pikir paling ga peduli mengikuti kelas. Lalu Rafa, Latip bergantian mereka aku ajak ngobrol sambil jalan keluar kelas. Atau ketika teman kelas lain mau mengerjakan tugas sedang mereka daripada usil pada temannya, aku ajaklah ngobrol ngalor ngidul tentang latar belakang keluarganya dan pola asuh yang dia dapatkan di rumah. 

Setelah mendapat data hasil asesmen awal dengan anak-anak ini. Aku coba menerapkan strategi pembelajaran berbasis proyek. Melihat energi dari mereka yang luar biasa aktif. Kelas ini cenderung mengarah pada kebutuhan akan pembelajaran kinestetik.

Pucuk dicinta ulam tiba, setelah diskusi dengan guru IPA senior yaitu Pak Fadli akhirnya beliau mengajak untuk mengaktifkan lagi laboratorium IPA yang selama dua tahun pandemi terbengkalai. 

Beberapa kali pertemuan aku mengajak mereka mengenal laboratorium IPA sambil membersihkan dan menata ulang tempat itu. Selang satu bulan akhirnya laboratorium itu sudah layak pakai lagi dengan perlengkapan alat dan bahan yang masih layak digunakan. 

Waktunya beraksi, yeaay aku senang sekali mengajak anak-anak belajar di laboratorium IPA. Terutama kelas 7 yang sama sekali belum mengenal alat-alat dan laboratorium IPA. Mereka sangat antusias dan senang belajar dengan terlibat langsung melakukan praktikum. 

Jika sudah dalam laboratorium, mereka jarang sekali ada yang bercanda atau izin ke kamar mandi. Kebutuhan gaya belajar kinestetik mereka terarahkan. Energi berlebih mereka tersalurkan. Tentunya mereka pun harus berpikir keras untuk membuat analisis dari apa yang mereka amati. 

Bagaimana keseruan praktikum mereka, tunggu di episode kelas lain yang tak kalah unik dengan kelas 7 I. Semoga tulisan praktik baik ini menginspirasi teman-teman guru yang lain. Sehingga tetap semangat dalam menangani siswa dengan segala keunikannya. 

Salam satu profesi.


#wardahinspiringteacher2022

#selamathariguru2022

#estucik_cekas

#rumahbelajarkemendikbud



Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis
Terbaru Lebih lama

Related Posts

There is no other posts in this category.

13 komentar

  1. Keren Bu. Sangat seru. Sudah terbayang saja anak-anak nya bagaimana, soalnya murid saya ada juga yang seperti ini. Hehehe. Ditunggu cerita selanjutnya ya

    BalasHapus
  2. Maksih sudah mampir Bu... πŸ’–πŸ™

    BalasHapus
  3. Luar biasa.. sudah kebayang dah situasi kelas nya kaya gmna😁 mantapπŸ’ͺ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksih sudah mampir, kelasnya super sekali 😁

      Hapus
  4. Amazing teacher,, keep spirit Bu gulu

    BalasHapus
  5. Maaciihhh, πŸ’–πŸ’–

    BalasHapus
  6. Luar biasa mbu....kereeen pokok nya...sangat menginspirasi...

    BalasHapus
  7. Makasih sudah mampir Mbu... πŸ’–πŸ’–

    BalasHapus

Posting Komentar