header Diary Jingga

Geliat Komunitas ODOP, Walau Corona Tetap Berkarya

7 komentar

Sudah memasuki pekan terakhir dari 60 hari mengikuti tantangan Komunitas ODOP (One Day One Post). Jika ingin lolos menjadi salah satu anggota komunitas ini maka harus lolos melewati tahapan ini. Mengapa aku tertarik menjadi anggota komunitas ini, dan apa goal yang aku harapkan dari kegiatan yang mengumpulkan para penulis se-Indonesia ini. Lalu apakah pandemi Corona menghambat kami untuk tetap berkarya. Komunitas ini tetap berjaya walau corona melanda. 

Komunitas ODOP berkarya


Corona? Gak Ngaruh Bagi Komunitas ODOP

Bukan, bukan artinya anggota komunitas ODOP kebal terhadap corona, Ya kali kita punya baju tameng anti virus hahaha. Corona ini kan kayak siluman  kalau kata mas Syaif Peje kece di squad blog, "dibilang ga ada tapi korbannya nyata" Ini peryataan yang disampaikan Mas Syaif kala menyampaikan kabar bahwa salah satu anggota terkena covid-19. Kita turut prihatin sama kak Nurul Afiati, ucapan doa dan dukungan kita sampaikan untuk kesehatan dan kesembuhannya. 

Nah, kenapa aku bilang nggak ngaruh. Ya karena kak Nurul memilih tetap memilih melanjutkan tantangan menulis hingga tuntas. Keren kan? Gimana gak keren, orang lain mungkin frustasi, stress atau malah ga semangat mengerjakan ini dan itu. Malah fokus pada penyakitnya. Tapi kak Nurul sepertinya yakin dan tahu kalau si covid ini penyakit yang menyerang imunitas. 

Berarti kalau begitu, biar tetap sehat harus bahagia dong ya, gak boleh stres. Yap, seratus untuk sahabat Vie, seribu untuk authornya wkwkwk. Ya harus bahagia, salah satu sumber bahagia itu adalah kita bisa melakukan self healing sendiri. Sedangkan menulis, adalah salah satu jalan menuju Roma #ehh maksudnya dengan menulis kita bisa melakukan self healing. 

Geliat Karya Komunitas ODOP 

Pandemi Corona ini sudah memasuki semester dua dalam petualangannya memporak-porandakan tatanan masyarakat. Banyak yang terdampak, tetangga saya pun terkena wabah ini. Ini nyata, dan belum terlihat tanda-tanda akan usai segera. 

Jika komunitas lain berangsur bubar karena tak dapat lagi melakukan hang out bareng. Lain lagi dengan dengan komunitas yang satu ini, masih semangat saja. Komunitas ODOP ini tetap berjalan karena koordinasi kita lakukan melalui daring. Rekrutmen peserta tetap dilaksanakan dengan teknik menulis tak putus selama 60 hari. Baru bisa dinyatakan lulus dan lolos seleksi jika poin yang terkumpul memenuhi syarat. 

Hebatnya lagi semua pada semangat menyelesaikan tantangan menulis. Gak main-main, selama waktu itu pastinya semua pada semangat. Tapi, ya mentalitas dan semangat konsisten itu salah satu kendalanya. Satu persatu gugur di Medan laga. Sekarang memasuki pekan terakhir dan aku susah mulai terseok kehabisan semangat. 

Walau Corona Tetap Berkarya

Aku pun demikian. Walau Corona melanda, semangat tetap dijaga. Semenjak ikut tantangan ini, jam tidur berkurang. Kenapa kok bisa? Masa dalam waktu 24 jam tidak bisa menulis di awal waktu. Sayangnya sahabat Vie, aku ini tipe deadliner akut. Aku akan menulis selepas jam 8 malam. Nah, bisa dibayangkan bagaimana kejar-kejarannya dengan waktu jam Cinderella 23.59 teng. 

Masih banyak emang peernya aku ini. Tapi yang pasti aku tetap berupaya semangat walau di masa pandemi ini. Buktinya buku soloku terbit dong saat pandemi. Jingga senja menjadi bukti aku tak pernah menyerah dengan Corona. Jadi yaa tetap harus berkarya. 

Tidak hanya aku sendiri yang berprinsp corona bukan penghalang. Nyatanya bagi kami para penulis, banyak hal yang bisa dilakukan walau di rumah saja. Kenyataannya kami bisa menulis di mana pun. Ketika banyak karyawan dirumahkan, penulis adalah salah satu profesi yang masih tetap aman. 

Banyak job yang tersedia untuk penulis, misalnya optimasi blog sehingga bisa menghasilkan pundi-pundi keuangan. content writer, editor dan jurnalist adalah contoh job yang bisa dilakukan walau di tengah pandemi corona. 

Komunitas ODOP mempunyai rule yang jelas untuk anggotanya. Sehingga tidak akan miskin karya. Nantinya jika sudah lolos dalam tahap rekruitmen seluruh anggota komunitas akan diarahkan pada minatnya. Nantinya mereka akan memilih fokus selanjutnya. Kalau kata istilah aku sih, mau dibawa ke mana kita selanjutnya. Apakah mau menekuni karya lewat membuat buku , mengirim tulisan ke berbagai media masa atau menekuni karya lewat konsistensi membaca. Tingga pilih mana yang akan menjadi tujuan selanjutnya. 

Nah, Sahabat Vie. Jelas kan bahwa komunitas ODOP tetap berkibar walaupun kondisi pandemi belum usai.Setelah baca artikel ini, apa kamu mau diam saja gitu? hayu semangat malakukan hal-hal positif. Jika pun harus keluar dan bertemu banyak orang ingat pesan ibu. Selalu jaga garak aman, memakai masker dan jangan lupa cuci tangan. 




Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

7 komentar


  1. Tulisannya rapi dan runtut, Kak. Oh, ya. Di paragraf awal yang habis kalimat tanya harusnya dikasih tanda tanya malah tanda titik, Kak. 🙏😊

    BalasHapus
  2. Bersama ODOP di tengah pandemi tetap berkarya. Semangatsssss

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah bisa mengenal komunitas ODOP. kadang suka bertanya dalam hati, koq bisa ya ada komunitas sekeren gini? :)

    BalasHapus
  4. Komubitas ODOP emang keren beud

    BalasHapus
  5. Aseeekk aku merasa bangga jadi anggota ODOP 🤣

    BalasHapus
  6. justru karena andemi kita harus banyak menghasilkan tulisan

    BalasHapus
  7. Setuju Bu, kerasa banget Corona yang dibuat berwarna dengan ikut ODOP

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email