header Diary Jingga

Dear Bu Guru, Ajarkan Aku Tertawa

Posting Komentar

 

Desain by Canva

Terimakasih untuk waktu yang kau sempatkan untuk mendengar ceritaku. Walau tak secara langsung kita bisa bercerita, aku sudah senang. Ibu sepertinya tahu bahwa aku tak mungkin datang menemuimu dan berada di balik mejamu. Lalu memendarkan setiap kisah hidupku. Aku malu. 


Bu, aku bingung harus dari mana aku mulai bercerita pada Ibu tentang aku. Bahkan Ibu pun sepertinya tak begitu mengenalku. Semoga setelah membaca surat ini, ibu mencariku di antara murid ibu yang lain. 


Aku memang tak terlihat, Bu. Aku bahkan ingin teman-teman tak melihat jika aku ada di kelas. Aku hanya memenuhi kewajibanku saja berada di kelas. Tapi aku bingung bagaimana mengikuti kelas. 


Bu, aku berbeda. Bagaimana ibu dapat menangkap maksudku jika aku saja merasa putus asa menjelaskan apa yang kurasa. Aku bahkan tidak yakin ibu bisa membaca cakaran tanganku. 


Ibu, aku butuh Ibu. Tapi aku tak tahu bagaimana Ibu bisa membantuku. Aku saja merasa tak bisa membantu diriku sendiri. Untuk bergerak saja aku kesusahan. Kondisi kaki yang tidak tegap sempurna. Juga tangan yang tak kuat menggenggam. 


Aku harus bagaimana, Bu? Aku ingin seperti teman-temanku bercerita. Tapi, aku ragu mereka mau sabar mendengarkanku yang berbicara penuh jeda. Akupun ingin tertawa Bu. Tapi tunjukkan padaku cara untuk tertawa, agar aku bisa merasakan indahnya dunia. 



Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email