header Diary Jingga

Me Versus Netizen Julid

4 komentar

Image by Canva


Aku tidur dulu sejenak. Mencoba berjarak pada keadaan sesaat. Terkadang suara-suara sumbang tak perlu didengar. Itu hanya akan menyakitkan gendang telinga. Usah hiraukan. Aku yang tahu kapan bergerak, kapan harus tiarap. 

PERLU DIINGAT

Hanya orang yang punya energi lebih yang mau peduli dengan kita luar dan dalam. Ada kalanya kita perlu bersyukur atas segala nyinyiran. Itu kadang bentuk perhatian dari orang-orang yang kurang etika.


Tapi tetap yang namanya perhatian harus kita hargai. Mereka toh cukup meluangkan waktu untuk mengomentari hidup kita. Jadi ya hargai saja usahanya. Sekedarnya saja, tak usah terlalu dalam sampai dipikirkan apa yang diracaukannya. 


Jika dia sudah selesai. Maka selesaikan juga urusannya di telinga kita. Mau dikeluarkan lagi lewat telinga sebelahnya, atau kita lanjutkan ke otak dan hati untuk menyimpannya. 


Aku lebih memilih menepisnya. Biarlah, hak dia mempunyai mulut. Kita tidak bisa membekap mulut orang lain bukan? Tapi kita bisa menyetir telinga dan hati kita untuk bersikap. Karena kita pun berhak bahagia atas sebuah pilihan. 



Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar

Follow by Email