header Diary Jingga

Akibat Mengenalkan Buku Sejak Dini

2 komentar

Hari ini belum ada ide mau nulis apa. Tapi setelah membaca salah satu review tentang buku anak, aku jadi ingat masa kecil anakku. Usianya sekarang menjelang sebelas tahun. Orang yang mengenalnya menyebut dia sebagai sosok anak yang ceriwis, bawel dan kritis. 

Azqia Azalea Hidayat namanya. Azalea kami sematkan, berharap dia jadi Putri yang tangguh dan tak mudah layu. Setelah nama Azqia yang menurut filosofiku cerdas dan suci diambil dari Adzkia yang berarti cerdas dan Zakia yang berarti suci bersih. 

Anakku sangat kritis atas segala hal yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Aku lupa cara mendidiknya dulu bagaimana persisnya tapi yang jelas aku berusaha jadi ibu yang baik walaupun tidak sempurna membersamainya. Karena aku ibu bekerja. 

Ada satu hal yang menarik dalam dirinya untukku bagi. Dia suka buku. Itu berawal dari kesukaanku dulu saat dia masih balita. Setiap bulan aku berusaha membawa buku bacaan ke rumah. Rata-rata buku dongeng atau fabel. 

Awalnya suka karena gambarnya dan masih belum mengerti. Usia dua tahun sudah mulai memahami maksud gambar. Kami rutin  bacakan buku cerita menjelang dia tidur atau kadang saat dia lagi main. 

Usia tiga tahun dia sudah bisa menceritakan kembali  isi buku berdasarkan urutan gambarnya. Lucu, karena sengaja kami sediakan "panggung" untuk dia bercerita kembali dan kami sebagai penontonnya. 

Usia empat tahun dia juara pertama lomba berceloteh. Yah, kebayang kan bawelnya gimana. Semakin hari redaksi kalimatnya semakin banyak. Setelah bisa membaca, maka toko buku adalah tempat favorit kedua setelah play ground jika kami jalan-jalan ke mall. 

Jadilah dia sekarang yang kritis. Diusianya yang menjelang remaja, kami sering berselisih pendapat. Kadang juga lengket layaknya sahabat. Kami sama-sama menyukai dunia menulis. 

Azaleaku kini sudah bisa menulis cerpen, memenangkan lomba baca puisi dan yang paling penting bisa dijadikan teman untuk curhat bahkan diskusi untuk hal-hal tertentu. Walau tak jarang kami berdebat sampai bertengkar yang diakhiri acara nangis dan maaf-maafan. 



Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

2 komentar

  1. Masya Allah. Seperti kakak beradik bertengkar sampai nangis dan bermaaf-maafan.

    BalasHapus
  2. Iya karena belum punya adik... jadi bertengkar sama bundanya hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email