header Diary Jingga

Sebotol Kisah Haru di Ramadhan Pertama

Posting Komentar


Part 7

Oleh Vie
.

Perasaan kakek mulai tak karuan. Dia keluar masuk rumah mana tahu ada orang lewat. Untuk meninggalkan cucunya sendirian, rasanya tidak mungkin. ⁣
.⁣
Orang-orang tak akan hilir mudik di tengah terik matahari begini, apalagi ini bulan puasa. Mereka memilih istirahat di rumah. Apalagi rumah kakek Yusuf jauh dari tetangga. Terhalang kebun dan ladang. ⁣
.⁣
'Coba tadi uang dari pak haji ku terima' gumamnya sembari meletakkan kain basah di dahi cucunya. Tampak Yusuf gelisah tak nyaman. ⁣
.⁣
Obat penurun panas yang kini Yusuf butuhkan. Tapi apa daya tak terbeli. Akhirnya kakek mencari daun cocor bebek yang tumbuh di halaman sebagai obat alami. Dia cuci bersih, lalu menumbuknya hingga halus. Mulai membalurkan pada seluruh tubuh Yusuf. ⁣
.⁣
Naik ojeg suruhan pak haji, bi Ijah tergesa mencari rumah kakek Yusuf. Pak haji khawatir. Harusnya sebelum Dzuhur mereka kembali. Jadi dia mengutus bi Ijah. Tak lupa menitipkan uang yang tadi ditolak.⁣
. ⁣
Gang rumah Yusuf sudah terlihat. Tak sampai sepuluh menit bi Ijah menemukan rumahnya. ⁣
"Assalamualaikum, kek. Ini Ijah" ⁣
"Waalaikumsalam..." Kakek Yusuf tergopong menjelang. ⁣
"Bi, kok tahu rumah saya. Sini ayo masuk. Yusuf panas, jadi saya ga kembali ke masjid" ⁣
"Ya Allah kek, pantesan pa haji gelisah. Kita bawa ke dokter saja ya. Mumpung ada ojeg. Ini uang dari pak haji harus diterima ya. Kakek saja bernagkat bawa Yusuf. Biar saya nunggu di rumah ini." Tutur bi Ijah, sembari terburu-buru menghampiri Yusuf yang tertidur. ⁣
Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email