header Diary Jingga

Sebotol Kisah Haru di Ramadhan Pertama⁣⁣

Posting Komentar

.⁣⁣
Oleh Vie⁣⁣
.⁣⁣
Part 14 (Selesai)⁣⁣
.⁣⁣
Sirine mobil ambulance meraung memekakan telinga di  penghujung Ramadhan. Yusuf kecil tertidur di sebuah kamar di rumah pak haji. Sebelumnya Suci sudah menceritakan semua pada pak haji lalu mereka sepakat menjemput jenazah kakek di rumah sakit untuk disemayamkan. ⁣⁣
.⁣⁣
Bi Ijah menatap Bu haji sebelum mereka masuk kamar untuk membangunkan Yusuf. ⁣⁣
"Le, bangun... Kita ketemu kakek dulu ya" suara halus bi Ijah sontak membuat Yusuf terduduk. ⁣⁣
⁣⁣
"Kakek pulang?" Tanyanya sumringah⁣⁣
Bu haji membawa Yusuf kepangkuannya. Sedang bi Ijah memegang tangannya untuk menguatkan. ⁣⁣
⁣⁣
"Kakek pulang, pak haji dan mbak Suci sudah menjemputnya. Namun, kakek ga bisa sama-sama kita lagi. Kakek sudah di panggil Gusti Allah" tiba-tiba Yusuf melepaskan tangannya lalu berlari keluar. ⁣⁣
.⁣⁣
⁣⁣
"Kakek...!" Dia mencari kesana kemari. Dia mematung memandangi sesosok tubuh yang membujur kaku terlentang di ruang tamu. ⁣⁣
Pa haji menghampiri Yusuf lalu menggendongnya. Tubuh itu lemah, seperti tak ada tulang-tulang yang menyangga. ⁣⁣
⁣⁣
"Kita lihat kakek untuk yang terakhir ya. Setelah itu Yusuf ikhlasin kakek pergi. Jangan khawatir, kakek pasti mengawasi Yusuf dari surga bersama ibu dan bapakmu. ⁣⁣
⁣⁣
"Pak haji. Kenapa kakek diam, kenapa dia tidak memelukku. Aku rindu kakek. Aku mau main sama kakek pa haji" Isaknya. Dia belum mengerti apa itu meninggal. Yang dia tahu ibu dan bapaknya pun dikatakan meninggal. Artinya tak akan bertemu lagi kecuali dalam tidur. ⁣⁣
.⁣⁣
Pemakaman usai. Yusuf menyaksikan tubuh kakek ditimbun tanah. Dia tidak meraung-raung lagi seperti tadi di rumah pak haji. Kata pak haji, kalau menangis di pemakan kakek akan sedih. Yusuf tak mau kakek sedih. Walaupun dia tak mengerti makna sedih. Airmatanya sudah habis. Dia hanya terpaku. ⁣⁣
.⁣⁣
Sore itu takbir idul Fitri mengiringi pemakaman jenazah kakek. Lebaran ini akan sangat berbeda untuk Yusuf. Tak ada kakek. Dia benar-benar seorang diri. Tak akan keliling kampung untuk bersalaman. Bahkan mungkin dia akan di rumah saja. ⁣⁣
.⁣⁣
"Ayo Le, ini pakai bajunya" kata Bu haji sembari memberikan sebuah Koko. ⁣⁣
⁣⁣
"Bu haji, apa itu baju yang kata mbak Suci, kakek yang belikan?" Tanya Yusuf polos. ⁣⁣
Bu haji mengangguk sedih. ⁣⁣
⁣⁣
"Aku ga mau Bu haji. Aku gak mau. Baju itu yang membuat kakek pergi. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Aku takut Bu haji" Yusuf menangis memilukan. Membuat siapa pun yang mendengar akan terharu. Anak lima tahun itu sudah tak punya siapa-siapa dalam hidupnya. ⁣⁣
⁣⁣
"Yusuf gak sendiri" tiba-tiba pak haji muncul "Yusuf akan jadi anak kami. Mulai sekarang Yusuf panggil Ibu dan bapak saja jangan panggil Bu haji dan pak haji yaa" mereka bertiga saling memeluk satu sama lain. ⁣⁣
.⁣⁣
Lebaran kali ini Yusuf di rumah saja. Tak ingin pakai baju baru, tak ingin pergi ke masjid. Semua hanya membuatnya mengingat kakek dan bersedih. Untuk menghibur hati Yusuf bi Ijah terus menemanimanya. Kadang menonton Ipin Upin atau film tayo kesukaannya. Yusuf memang senang menonton film kartun.⁣⁣
.⁣⁣
Semua berusaha menghibur Yusuf. Suci datang  membelikan Yusuf mainan mobil-mobilan. Pak haji dan Bu haji membelikan baju, sendal dan peci baru. Semua makanan disajikan untuk Yusuf. Mereka semua menyayangi Yusuf. Menumpahkan segenap perhatiannya agar Yusuf bisa lupa kesedihannya dan tetap berhari raya dengan gembira. 
Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email