header Diary Jingga

Sebotol Kisah Haru di Ramadhan Pertama⁣

Posting Komentar

.⁣
Part 12⁣
Baju Lebaran Berlumur Darah
.⁣
Oleh Noviyani⁣
.⁣
Hari sudah petang, semburat jingga mulai memenuhi langit. Cuaca cerah hari itu berbanding terbalik dengan perasaan Yusuf yang gusar. Menjelang magrib kakeknya belum pulang. Bagaimana dia berbuka puasa hari ini. Kenapa kakek lama sekali. Kemana kakek sebenarnya. Berbagai pertanyaan memenuhi ruang pikirannya yang masih polos. ⁣
.⁣
Gontai ia berjalan ke dapur. Yang ditemui hanya air dalam kendi. Beruntung kakek pernah mengajarkannya menyalakan kompor gas satu tungku yang dulu dibagikan dari desa. Dengan hati-hati dia putar knop kompor lalu menyala. Tersenyum kecut bibir mungilnya menyimpan panci lalu menambahkan air. Sementara itu dia keluar rumah mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk buka puasa. ⁣
.⁣
Tak ada apa-apa di belakang rumahnya hanya ada rumpun pohon bambu yang rindang. Tapi dia pernah menemani kakek mencari tunas bambu untuk diolah, namanya rebung kata kakek. Enak, dia pernah memakannya. Hari ini dia berharap hal yang sama. Beruntung ada tunas bambu yang baru saja muncul. Dia kembali ke dapur untuk mengambil golok. Berjongkok dia mulai mencungkil tunas bambu itu. Tangan mungil itu terus berusaha walau gatal dan kotor, dia tetap bertahan.⁣
.⁣
Perjuangannya berhasil. Dibersihkan nya rebung yang sudah didapat. Dia iris tipis-tipis lalu mencucinya berulang seperti yang dulu kakek lakukan. Gatal ditangannya sudah berkurang karena dialiri air terus menerus. Setelah dirasa cukup bersih dari getahnya yang kata kakek beracun dia mulai merebus. Dia ulangi sampai tiga kali rebusan.Rebung itu dimasaknya hanya dengan garam. ⁣
.⁣
Azan magrib berkumandang, Yusuf membatalkan puasa dengan minum air putih saja. Airmatanya berlinang dia mulai dihinggapi ketakutan. Tak mungkin dia pergi sendirian ke masjid pa haji yang jaraknya cukup jauh. Kondisinya belum sehat benar. Dia juga takut karena hari semakin gelap tapi kakek belum datang juga. ⁣
.⁣
"Kakek dimana? Yusuf takut" runtuhnya. Perutnya sangat lapar. Setelah salat magrib dia bergegas ke dapur. Dia mencoba sedikit rebung yang tadi dia rebus, jaga-jaga kalau masih pahit. Kata Kakek kalau pahit jangan dimakan, itu berarti racunnya belum hilang. Setelah dirasa aman, Yusuf memakan cukup banyak untuk mengganjal perutnya. ⁣
.⁣
Azan isya berkumandang tapi kakek belum kembali. Yusuf menunggu di pintu sambil menunduk lesu. Diusapnya berkali-kali sungai yang menganak di pipinya. ⁣
"Kakek dimana, kapan pulang?" Rintihnya. ⁣
Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Bagaimana jika sampai pagi kakek belum pulang. Bagaimana jika kakek tak kembali. Apa sebenarnya yang terjadi pada kakek sampai dia tertidur di lawang pintu. ⁣
.⁣
"Le, bangun. Ini kakek bawa baju lebaranmu. Baju Koko yang kamu mau Le. Kamu nanti bisa pakai lebaran sama kayak anak-anak lain." ⁣
Yusuf dengan senang memeluk kakek. Dia menerima kantong hitam berisi baju. Tapi tiba-tiba kantong plastiknya berlumuran darah. Kakek berlumuran darah. Baju lebaran berlumuran darah. ⁣
.⁣
#RWCODOP2020⁣
#OneDayOnePost⁣
#RWCDay25⁣
#Ramadhan2020
Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email