header Diary Jingga

Sebotol Kisah Haru di Ramadhan Pertama

Posting Komentar

Part 8
.
Oleh Vie
.
Keadaan Yusuf belum membaik, terakhir hidungnya mimisan. Kata dokter pembuluh darahnya pecah. Yusuf demam berdarah. Pihak puskesmas merujuk agar Yusuf dirawat di rumah sakit besar.
.
"Cucu bapak, terkena DBD jika saja terlambat, mungkin tak tertolong. Dia harus segera dapat transfusi darah dan perawatan serius di rumah sakit. Hari ini juga harus dibawa"
"Baik, dok" jawab kakek pendek. Hatinya gusar. Bagaimana dia membawa cucunya. Ojeg yang tadi mengantar sudah kembali.
Berjalan gontai menuju kamar dimana cucunya dirawat.
"Sus, boleh saya minta tolong jaga cucu saya. Saya harus mencari kendaraan untuk mengantarnya ke rumah sakit"
"Tak perlu pak, di puskesmas ini ada ambulance. Tadi dokter sudah mengintruksikan agar cucu bapak segera disiapkan untuk dibawa ke rumah sakit daerah."
"Oh iya, Sus. Terimakasih."
"Bapak bisa menyelesaikan pembayarannya di bagian administrasi"
Kakek hanya mengangguk lalu pergi menuju loket pembayaran. Tangannya mengunci uang yang dia pegang dari pak haji. Dia takut uang itu menghilang.
"Atas nama Yusuf, Bu"
"Empat ratus lima puluh ribu pa, itu sudah termasuk biaya ambulance"
Kakek menghitung uang di tangan. Lima lembar merah. Hanya itu. Lalu dia serahkan semua.
"Bapak, tak ada BPJS?"
Kakek hanya menggeleng. Diterimanya kembalian uang lima puluh ribu rupiah.
.

Suara sirine ambulance membuat hatinya gundah. Kakek terus berdoa dalam hatinya agar cucu kesayangannya bisa selamat.
"Kek..." Lirih Yusuf memanggil
"Iya, Le..."
"Kita mau kemana? Yusuf takut. Badanku sakit semua. Pegel."
"Kita akan ke rumah sakit, Le. Mau obatin sakit kamu"


Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Follow by Email