header Diary Jingga

Sebotol Kisah Haru di Ramadhan Pertama (Part 3)

4 komentar

Oleh : Vie


“Suf, ayo bangun. Katanya mau jalan-jalan sama Ayah”

Yusuf membuka matanya perlahan. Tampak seorang lelaki tersenyum ramah.

“Ayo, Ibumu sudah menunggu. Yusuf mau beli kue kan?”

Yusuf hanya patuh mengikuti lelaki yang mengaku ayah itu. Tampak di luar seorang wanita sedang menunggu. Wanita dengan gamis putih dan jilbab yang cantik. Kedua orang dengan wajah bersinar itu menggamit lengan yusuf kecil.

Tampak sebuah taman bermain yang ramai. Banyak anak seumuran Yusuf sedang bermain perosotan, beberapa diantaranya main jungkat-jungkit. Ada kedai es krim dan juga permen warna-warni.

“Bu, yusuf mau permen itu” tunjuknya pada wanita cantik yang ia sebut ibu. Sementara si ibu menggangguk sambil tersenyum tulus.

“Ayo ayah gendong biar Yusuf bisa sampai ke sana dengan cepat” jawab ayahnya sembari menaikkan tubuh kecil itu pada pundaknya.

Yusuf tampak senang. Giginya yang ompong terlihat saat dia tertawa. Dia seperti sedang terbang. Ayahnya mambawanya ke angkasa.

“Ini permennya” Seru Sang ibu.

“Kok, cuma satu bu. Buat kakek mana?”  Yusuf bertanya polos

“Kakek tak makan permen. Kita beli itu di sana” Jawab ibunya, menunjuk sebuah rumah makan.

“Ayo” jawab Yusuf semangat.

Mereka kemudian membeli berbagai masakan, ada rendang, ayam goreng, dan berbagai lauk lain yang sedap. Yusuf menelan ludah.

“Kakek dimana?” Yusuf tiba-tiba ingat kakeknya. Lalu tiba-tiba semua hilang makanan enak, ayahnya, dan ibunya juga hilang. Yusuf bingung mencari-cari mereka tapi tidak ada. Hanya ada ruangan gelap. 
“Ayah...!Ibu...! Kalian dimana?”

“Kakek... Aku takut. Kakek dimana?”

***

“Le... bangun. Ini kakek, bangun Le” Suara kakeknya. Perlahan mata sayu itu terbuka dia melihat sekeliling ramai orang bersarung dan berpeci. Semua hendak berdiri bersiap untuk pulang seusai sholat tarawih.

“Kek...Dimana Ayah dan Ibu? Mereka tadi ada. Mereka membelikan makanan untuk kakek, permen warna-warni juga”.

Kakek tua hanya membisu. Sesak, betapa ia sangat menderita hari ini. Bukan kemiskinan yang ia sesali tapi ketidakberuntungan cucunya yang menghujam hatinya.

“Kamu, lapar Le? Ayo kita pulang”

“Aku lemas, aku tak kuat jalan”

“Kamu tunggu sini ya. Kakek mau ambilkan makan dulu buat kamu”

“Ohh, kakek menyimpan makanan dari Ibu toh” Sang kakek tidak menjawab. Netranya pecah, aliran kesakitan membasahi pipi keriputnya.

***

“Brug” Tanpa sengaja dia menabrak seseorang, sedikit oleng karena lemas dia hampir terjatuh. Namun, lengannya segera ditangkap seseorang.

“Aduh, maafkan saya Kek”

“Saya yang minta maaf, karena tak melihat jalan. Ehh Pak Haji”

“Mau kemana Kek terburu-buru? Yusuf mana?”

“Ehh anu pa haji, saya mau cari makanan buat Yusuf. Dari buka puasa dia belum makan apa-apa”

“Apa?” Bagai ditampar Pak haji terperanjat. Wajahnya pucat. Seolah dia sedang dihujat atas dosa yang tak terampuni. Bagaimana dia bisa tidak sadar ada anak yatim yang kelaparan di dekatnya.

“Jadi kalian tidak berbuka di masjid ini? Ya Allah saya kira... Ahh sudahlah, ayo ajak Yusuf ke rumah saya"

Selama menemani makan kakek tua dan cucunya itu, tak henti batin pak haji gelisah.

 ‘saya terlalu khusyu beribadah.Terlalu egois memikirkan diri sendiri. Padahal ada orang-orang di sekitar yang membutuhkan.Orang macam apa saya ini. Gusti Allah mugia mengampuni dosaku ini.’

***

“Ayo tambah lagi makannya, Nak” Bu haji menyodorkan nasi. Yusuf menggeleng malu.

“Nah, bu haji tambahkan ayam gorengnya ya”  tambah bu haji sembari meletakkan nasi dan ayam goreng di piring. Yusuf diam, tapi matanya berbinar melihat ayam goreng itu. Dia malu sebenarnya. Tapi dia selalu ingat pesan Kakek, ga boleh minta-minta kalau nggak dikasih.

“Kakek masih suka bawa becak?” tanya pak haji hati-hati.

“Sekarang sudah jarang karena sepi penumpang, Pak haji”

“lalu kegiatan Kakek apa?”

“Tetap di pangkalan menunggu penumpang. Tapi seringnya khawatir karena Yusuf ditinggal sendiri di rumah. Jadi kalau siang saya pulang. Kadang sampai sore juga ga ada yang pakai jasa saya pa haji. Sekarang orang-orang lebih pilih pakai ojeg online.

“Bagaimana, kalau kakek Yusuf jadi marbut aja, Bah? Masjid tidak ada yang ngurus” Sela Bu haji.

“Ohh iya, seperti diingatkan. Apa kakek bersedia? Sekarang kan bulan puasa. Masjid kalau ada yang rawat jadi lebih terjaga kebersihannya. Nanti tiap bulan, ada sedikit dari saya untuk uang jajan Yusuf. Sahur dan buka puasa, kakek bersama kami. Mau tinggal di sini boleh, atau mau menempati ruangan dekat masjid juga boleh nanti saya siapkan kasur. Soalnya kan kalau dari rumah kakek terlalu jauh ke masjid ini. Kasian Yusuf kalau tiap hari harus ikut bolak-balik." Tutur pa haji panjang lebar.

“Maturnuwun sangat loh pak haji. Insyaallah dengan senang hati saya akan mengurus masjid. Tak perlu di bayar Pak haji, saya ikhlas. Masjid kan rumah Gusti Allah. Kewajiban saya juga sebagai muslim untuk menjaganya.”

“Kamu mau, Le. Sementara selama bulan puasa kita di masjid saja yo tingganya” 
“Mau Kek, Nanti setiap magrib banyak makanan” seru Yusuf polos. 
Pa haji dan bu haji pun tergelak  medengarnya.

“Nah, malam ini. Kakek dan Yusuf tidur di kamar tamu dulu ya. Boleh untuk selanutnya pun. Tapi kalau mau di masjid juga boleh. Terserah Kakek saja”

“Saya di masjid saja pak haji. Nanti kalau saya di sini, takut kesiangan membangunkan orang-orang sahur. Saya kepengen lebih dekat dengan Gusti Allah.”

“Baik, tapi malam ini jangan menolak ya Kek. Kasian Yusuf. Ruangan dibelakang masjid masih berdebu. Besok saja dibersihkan dulu.”

“Baik pak Haji”

***

Setiap menjelang sahur Kakek akan membangunkan masyarakat sekitar yang tertidur melalui toa masjid. Yusuf melanjutkan sholawatan yang diajarkan Kakek. Mereka bergantian melakukannya.

Saat waktu sahur tiba, pembantu pa haji akan mengantarkan santap sahur bagi mereka. Kegiatan sehari – hari Yusuf hanya di seputar masjid. Ikut menyapu dan mengepel teras masjid tanpa lelah. Kakeknya yang membersihkan karpet dan bagian dalam. Menjelang waktu sholat maka Yusuf akan adzan dengan suara merdunya.

Begitu seterusnya, yusuf kecil terkenal dengan suara adzannya yang merdu. Jika magrib menjelang dengan senang hati dia bolak-balik rumah pak haji untuk membawa takjil buat dibagikan di masjid. Tak lupa mengikuti pesan pak haji agar menyisakan makanan dan menyimpannya di sekitar masjid.

Apakah kisah Yusuf akan selalu manis?
Bocoran part selanjutnya, Yusuf kehilangan kakek.


Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar

Follow by Email