header Diary Jingga

Rahasia Naura

4 komentar

                    Gambar : by Angelique Downing
Part_1

Oleh Vie

"Benarkah kata orang-orang itu, Mah? Kalau aku anak dari..." dia terdiam tak sanggup melanjutkan.

Sedang aku sudah bisa menebak. Sekarang ataupun nanti kebenarannya memang harus terungkap.

"Aku... Apa benar aku anak orang gila? Huhuhu..."

Akhirnya pecah juga pertanyaan itu bersama dengan derai luka yang ku tahan selama 20 tahun ini.

Aku hanya termangu. Mulutku terkunci. Mana sanggup aku mengatakan bahwa putri yang sudah aku besarkan selama 20 tahun ini adalah bukan anakku. Siapa yang tega mengatakan itu pada putriku.

Bukannya menjawab aku hanya terdiam, pikiranku melayang pada peristiwa 20 tahun lalu.

***

"Assalamualaikum... Bu bidan...!!!" Teriak seseorang dari balik pintu. Aku terbangun dari tidurku, samar kulihat jam menunjukkan pukul dua dini hari.

"Bu bidan, tolong Bu bidan, Si Esih teriak-teriak di pos kamling. Sepertinya mau melahirkan"

Aku terbangun. Sebagai bidan aku memang harus selalu siaga kapanpun warga membutuhkan bantuanku.

Apa tadi orang itu bilang. Esih? Wanita dengan gangguan jiwa di kampungku. Yang entah siapa yang tega mengirimnya ke kampung ini.

Tak punya keluarga di kampung ini. Sudah sebulan dia berkeliaran di kampung ini. Tak ada yang berani merawat karena sering mengamuk.

Aku yang sering mengiriminya makanan ke pos kamling dan menjemput dia pulang. Tapi baru beberapa jam dia di rumah maka dia akan kabur lagi ke pos kamling itu.

Dan malam ini, aku seperti tersadar aku belum memeriksa kandungannya bulan ini. Kalau menurut hasil USG harusnya dia melahirkan masih dua bulan lagi. Usia kandungannya ditaksir baru 7 bulan.

"Bu... Tolong Bu bidan" suara itu mengagetkan lamunanku.
"Ohh, iyaa pa hansip. Maaf saya lama. Ayo mari kita kesana" aku tergesa membuka pintu, lalu berjalan cepat menuju pos kamling. Sementara pa hansip mengekor di belakangku.

"Apa ada yang bisa membujuk Esih biar dibawa ke rumah saya saja" kataku setelah tiba di sana.

Aku lihat Esih meraung-raung kesakitan. Dia melempar apa saja yang ada di dekatnya.

"Kami sudah berusaha Bu bidan, cuma ibu kan tahu. Esih sangat membenci laki-laki. Jangankan kami papah ke rumah ibu, kami dekati dia sudah mengamuk" kata pa Udin salah satu warga yang kebetulan kebagian jadwal ronda malam itu.
"Makanya tadi saya langsung minta pa hansip ke rumah ibu."

Aku mendekati Esih, kulihat air ketuban sudah membasahi bajunya. Perlahan aku dekati dia. Biasanya dia akan menurut padaku dan ikut pulang ke rumah kalau aku membujuknya pulang.

Tapi saat sore saat mas Rahman suamiku pulang maka dia akan kabur lagi. Begitulah dia, jika melihat laki-laki dia akan menjauh.

Kalau ada laki-laki yang mendekatinya dia akan menjerit-jerit ketakutan.

Namun malam ini dia meraung-raung karena hal berbeda. Mungkin dia merasakan perutnya mulas. Tapi ketika warga yang sedang ronda mendekatinya dia histeris. Jadilah mereka jadi kebingungan.

Semenjak kedatangannya sebulan yang lalu. Wanita yang tertidur di pos kamling itu meringkuk ketakutan.

Dia sepertinya dibuang. Tak ada yang tahu siapa yang membuang wanita yang kemudian saya namakan Esih itu.

Sepertinya dia korban pemerkosaan. Dia di buang ke kampung kami dalam keadaan sakit jiwa dan hamil.

"Esih, ikut ke rumah ibu yaa. Ibu punya banyak coklat di rumah, Esih kan suka coklat." Bujukku
Dia menggeleng sambil masih meraung kesakitan.

"Bapak, ga mau" katanya terbata
"Bapak tidak ada, sedang ke luar kota. Esih bisa di rumah ibu sampai bayi Esih lahir yaa"

***

Dan begitulah, akhirnya lahir putri nan cantik jelita. Putri yang tak diinginkan Esih. Tepatnya, bukan tak diinginkan. Tapi, Esih tak mengerti jadi seorang ibu. Semenjak dia melahirkan anaknya dia semakin menjadi-jadi. Setiap kali bayinya mengangis dia akan menangis dan katakutan. Maka aku dan Mas Rahman memutuska untuk merawat bayinya dan mengirim Esih ke rumah sakit jiwa.

***

Dua puluh tahun berlalu aku merahasiakan kenyataan ini terhadap Naura, putri Esih yang kami rawat. Entah mulut siapa yang jahat menyampaikan kabar ini padanya.

Naura harusnya bahagia karena sedang mempersiapkan pernikahannya dengan seorang dokter muda yang bekerja denganku di puskesmas.

Ardi nama pemuda itu. Pemuda kota yang sedang dinas di kampung kami.
Setelah desas desus tentang asal-usul Naura beredar. Keluarga Ardi membatalkan pertunangan sebelah pihak.

Lanjut tidak yaa???
Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar

Follow by Email