header Diary Jingga

Kuabaikan Istriku Demi Sebuah Gawai

4 komentar
Foto Pemanis saja ( by me )

Sebuah catatan kecil dipenghujung waktu
Oleh Vie

Siang ini hujan begitu lebat, menggantikan matahari yang tertunduk kalah. Redup seperti jelaga tertutup awan hitam. Hujan begitu deras diiringi angin yang begitu besar. Saat aku mulai merebahkan tubuh untuk bermalas-malasan di sofa ditemani gawai yang setia menemaniku berselancar di dunia maya yang semakin hiruk-pikuk oleh berbagai macam peristiwa. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang sunyi.  Sendiri, istriku dan anakku masih di sekolah. 

Hari itu dia tetap mengajar, sedang aku libur karena tanggal merah. Peringatan hari besar selain Islam memang tidak merah bagi sekolah istri dan anak-anakku. 

Sesaat aku ingin mematikan sambungan internet untuk gawaiku karena hujan dan petir mulai tak bersahabat, tiba-tiba ada pesan whatsapp masuk dari istriku. 

[Yah, jemput yaa... Bunda ga bawa payung]
Saat aku mengetik akan membalas pesannya. Tiba-tiba dia menelpon. 

"Yah, bunda di angkot nih. Hujannya besar, jemput yaa" 

"Yaaa, tunggu di toko sebrang gerbang  perumahan yaa. Ayah berangkat sekarang" 
Dengan malas aku melepas smartphone dari genggaman. Meletakkannya, padahal obrolan di salah satu group wa sudah mulai ramai. Kuambil kunci mobil dan mulai melangkah gontai keluar menuju garasi. 

Saat pintu terbuka, angin dingin menyibak wajahku. Bbrrrrrr.... Dingin, aku kembali ke dalam untuk mengambil jaketku. Dan segera kembali keluar memasuki mobil dan menstarternya. 

Kulihat istriku sudah menunggu dengan payah. Wajahnya tampak pucat dan lesu. Saat mobilku menghampirinya dia berlari kecil dibawah hujan menghampiri pintu depan. 

"Bawa apa itu, Bun" begonya aku, bukannya menanyakan keadaannya yang tampak letih malah menanyakan bawaannya. 

"Tadi mampir belanja dulu, kali ayah pengen dimasakin" 

"Iyaa, belum makan nih ayah" masih tak perduli. Masih egois memikirkan perutku yang lapar. 

Istriku tampak menggeser sandaran  posisi kursi mobil sampai setengah terbaring . 

"Kok, jam segini sudah pulang" tanyaku, karena biasanya dia pulang bersama anak-anak sore

"Beberapa hari ini gak enak badan perut mulas sekali Yah" 

"Yaaa, nanti minum obat yaa" jawabku enteng 

Tiba di rumah, istriku langsung masuk kamar dan berbaring. Seragam sekolah dan jilbabnya masih lengkap. Bahkan kaus kaki pun tak Ia lepas. Ditariknya selimut kemudian tertidur meringkuk. 

"Sakit banget yaa Bun?" Tanyaku memastikan 

" Iyaa, ayah masak sendiri bisa ya? Bikin telur ceplok aja ada di kulkas, Bunda ga kuat mules sekali perutnya" 

"Iya" jawabku tak peduli. Ku ambil gawaiku. Lalu mulai berselancar lagi di dunia maya. Ke dapur sambil setia membawanya memasak ceplok telur. 

***

Aneh pikirku, biasanya istriku tidak pernah manja begini. Mungkin dia lagi datang bulan. Akhh tapi dia tak pernah seperti ini.Aku bahkan tak pernah mendengar dia mengeluh saat datang bulan sekalipun. Bahkan saat kedua anak kami dalam kandunganpun dia jarang mengeluh manja, tak seperti wanita lain yang memanfaatkana momen kehamilan untuk dapat meminta ini dan itu. 

Dia adalah wanita kuat. Setiap pagi dia akan mengurus keperluan aku dan kedua anakku. Si Kakak kelas 5 SD dan adiknya kelas 3 SD. Anak- anakkku belajar di sekolah full day. Sekolah yang sama  dengan tempat istriku mengajar. Sore jam 5 biasanya kita baru berkumpul lagi.

Setiap pagi kami berangkat bersama. Di rumah tak ada pembantu. Semua pekerjaan rumah istriku tangani sendiri. Aku jarang sekali membantu bahkan hampir tak pernah. 

Aku terima jadi. Baju rapih, makanan tinggal santap setiap pagi dan malam, karena siang kami semua makan di sekolah yang seringnya dia yang siapin bekalnya. 

Dia tak pernah mengeluh, cuma sesekali berkomentar. 

"Daripada main hape terus, bantuin cuci piring kek. Atau itu kamar mandi sudah mulai licin loh Yah" 

Biasanya aku akan segera jawab
"Iyaaa nanti" dan sampai beberapa saat, hari, minggu bahkan bulan, aku lupa melakukan itu atau memang tidak niat untuk melakukannya. Istriku sendiri akhirnya yang mengerjakan. 

Dia sering lebih banyak mengalah daripada harus berdebat denganku. Akhh salah sendiri dia yang mau bekerja. Dengan dalih, 'sayang ilmu kalau tidak di manfaatin. Lagi pula anak-anak sudah besar' jadi kan double harus kerja di rumah dan di sekolah.

Aku toh menjalani peranku dengan baik. Walau istriku bekerja, semua penghasilanku aku kasih dia semua. Aku yaa tinggal minta buat beli rokok dan bensin tiap hari yaa harus ada. 

***
"Yah... boleh pijitin punggung bunda, sakit mulesnya" 
Dengan malas aku dekati istriku. Aku usap-usap punggungnya. Mataku sesekali melihat layar gawaiku yang terus menjerit meminta perhatian. 

Group ini terlalu sayang jika dilewatkan. Aku melepas usapanku yang hanya baru beberapa menit. Berganti sibuk membalas chat di group whatsapp. 
Pemilihan presiden tahun ini membuat jagat dunia maya harus rutin diikuti. Jika tidak, salah-salah jadi kudet alias kurang update. Nanti pas teman-temannya ngobrol malah tak nyambung. 

"Yah..." istriku kembali mengingatkan saat kedua jemariku sudah sibuk berselancar di dunia maya. Aku tak menggubrisnya lagi. 

"Kenapa sih Bun, manja banget" dengusku kesal 

"Sakit" jawabnya pelan. Aku masih mengacuhkannya. Mataku masih tak lepas dari benda tipis persegi empat yang lebih menarik perhatianku ketimbang rintih kesakitannya. 

Dari sudut mataku sekilas aku melihat istriku beranjak keluar. Suara pintu kamar anakku terbuka. Aku masih tak perduli. 

***

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari saat batrei smartphone ku habis. Biasanya aku baru menyelesaikan kesenanganku berselancar di dunia maya saat batreinya habis. Warna merah pada gambar batrei tak keperdulikan. Terkadang aku berdiri berjam-jam sambil meng-charge smartphone sekaligus memainkannya. Saat itu aku pilih menyudahi aktifitasku berchat ria dengan beberapa penghuni group whatsappku. Belum lagi di facebook juga berbagai komentar enggan sekali aku abaikan. Pasti aku akan membalas jika ada yang mengusik paslon kebangganku. 

Aku masuk kamar anakku. Kulihat istriku sedang memeluk tubuh si bungsu. Kakaknya tertidur di tempat tidur satu lagi yang terpisah satu meter. Tubuhnya membelakangiku, sesaat aku ingin membangunkannya untuk tidur bersamaku. Tapi tampaknya dia sudah sangat terlelap. Biarlah malam ini aku tidur sendiri. 

Aku berbaring, tak bisa memejamkan mata. Entah mengapa aku merasa bersalah juga pada sikapku pada istriku tadi. Padahal baru kali ini dia manja. Biasanya dia tidak pernah mengeluh. Terlalu mandiri, pikirku. Kadang aku juga agak sedikit kesal, sepertinya dia tak membutuhkannku sama sekali. Atau memang akunya yang tidak peka. Akhhh lamunanku jadi menerawang pada saat aku dulu begitu memperjuangkannya untuk kujadikan istri. Aku begitu mencintainya. Tapi sekarang, aku sering mengabaikannya. 

Apakah ada wanita lain? Sama sekali bukan, aku tak pernah tertarik dengan wanita lain. Istriku cukup sempurna. Dia cantik, bisa merawat diri. Pandai mengatur keuangan keluarga sehingga tidak membuatku pusing, karena dia pun bekerja. Segala kebutuhanku dan anak-anak terpenuhi. Istriku pandai mengatur waktu. Dia bisa menjadi wanita bekerja sekaligus istri dan ibu yang baik. 
Tapi terkadang  karena kemandiriannya dan karena dia tak pernah mengeluh, aku merasa tidak dibutuhkan. Setahun belakangan aku malah jarang ngobrol dengan istri dan anak-anakku. Aku hadir di rumah, tapi jiwaku di dunia maya.

Tanpa terasa di masjid sudah terdengar suara orang mulai puji-pujian menjelang subuh. Aneh, pikirku. Biasanya istriku sudah terbangun jam 4 pagi untuk menyiapkan segala kebutuhan kami. Aku beranjak dari tempat tidur. Aku berpikir untuk mulai membantunya tanpa menunggu dia meminta. 

Aku mulai ke dapur, mencuci piring sebisaku walau masih kaku. Suara piring dan gelas yang beradu membuat anak pertamaku bangun dan menghampiriku. 

"Ayah lagi apa, berisik banget" katanya merengut
"Lagi bantu bunda, oiya bunda bangun belum?" 
"Belum Yah, masih bobo peluk ade" 
"Ya udah, kakak mandi sana" 
Anakku hanya mengangguk. 

"Ayahhh" tiba-tiba teriakan si bungsu mengagetkanku. Aku menlirik jam di dapur sudah menunjukkan jam 06.00. Tapi istriku masih belum bangun

"Kenapa Dek?" Aku tergopoh memasuki kamar. Kulihat posisi tidur istriku tak berubah dari sejak aku melihatnya semalam. 

"Ini, bunda tak bangun-bangun, tangan bunda buat aku sesak ga bisa bangun" 

"Bun... bun..." aku membangunkan istriku dengan perasaan yang mulai gelisah. 

Dengan gemetar aku memegang tangannya untuk membuka pelukannya pada bungsuku.. Kaku. 

"Bunnnn" teriakku saat tubuh yang aku gerakkan dingin dan kaku. Aku berhasil membuka pelukannya. Bungsuku menggeliat, lalu memeluk tubuh istriku saat disadari ibunya masih tak membuka mata. 

"Bundaaa bangun" rengeknya. Aku hanya terpaku melihat tubuh istriku yang kaku. Namun masih ada senyum di bibirnya.

Dunia seolah berputar tak tentu arah saat aku memaksakan langkahku mendekati smartphone. 

"Hallo, rumah sakit Mitra keluarga. Bisa tolong antar ambulance" 

Selanjutnya aku tak ingat apa yang aku katakan dengan orang di sebrang sana. 
Duniaku berputar, rubuh tak tentu arah. Suara anak-anak terisak saat perawat membawa tubuh ibunya kedalam ambulance. Setengah  sadar aku memasuki ambulance dengan kedua tanganku memegang anak-anakku dengan tegang.

*** 

"Istri anda, telah meninggal dari 9 jam yang lalu. Sekitar pukul 22.00" 

Aku terpaku saat dokter menyampaikan keterangan kematian istriku.
Dokter Bagio yang  menjadi dokter langganan keluarga kami memberikan keterangan. 

"Apa istri anda tidak menjalankan kemo, sesuai dengan rujukan dari saya minggu lalu?" 

Aku kembali terhenyak. Suami seperti apa aku ini. 

"Istri saya sakit apa dok?" Tanyaku lemas

"Baru seminggu kebelakang kami menyampaikan hasil lab, istri anda terkena kanker stadium 4, dan saya memberikan rujukan agar segera kemotherapy". 

Mendengarnya membuatku lemas, terkulai. 
Berarti malam itu, dia ingin aku menemaninya disaat-saat terakhir. 

Bumiku berputar, langitku runtuh. Semuanya gelap, luluh lantah bersama kepergian istriku. Aku suaminya tak pantas menyandang status suami karena aku tidak menjaganya sebagai pendamping yang harusnya bisa mejaga. 

Aku lebih pantas disebut suami bagi gawaiku, yang setiap saat aku periksa dan aku jaga baik-baik. Melebihi dia yang ku sebut istri. Maafkan aku istriku.


Dan, ada artinya kah kini penyesalan? 
Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar

Follow by Email