header Diary Jingga

Hidup Tak Semanis Permen, Tak Secantik Boneka

2 komentar
Repost dari KBM 
Oleh Vie

Jam dinding berwarna biru  berbentuk kepala Doraemon mengalihkan perhatianku sejenak dari sapu dan pel yang kupegang. Jarum panjangnya menunjuk angka delapan saat aku menyelesaikan pekerjaanku bersih-bersih di toko tempatku bekerja. Sebuah toko mainan dan juga berbagai macam permen warna-warni nan manis.

Saat aku membuka pintu toko lebar-lebar, mataku tertuju pada seorang bocah yang sedang terpaku di seberang jalan raya tempat tokoku berdiri. Pakaiannya kumal, telapak kakinya telanjang. Di tangan kanannya sebuah gitar kecil. Sedang tangan kirinya menggenggam kantong bekas bungkus permen.

Pandangannya tak sedikit pun beralih, sesaat dia mulai menyebrangi zebra cross. Lalu lintas yang ramai pagi itu. Semua orang seakan berlomba-lomba untuk sampai ke tujuannya dengan segera.

Suara klakson panjang membuatku terkejut. Sebuah minibus dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh bocah malang itu, lalu pergi begitu saja bagai hanya menerpa puing dedaunan yang terempas.

Semakin riuh suara orang menjerit mengumpat supir minibus itu, semakin kencang dia melarikan minibusnya. Tinggallah tubuh bocah itu terkulai lemah dengan darah bercucuran di kepalanya. Dia tewas seketika.

Dengan gemetar dan lutut yang lemas, aku memaksakan diri menghampiri kerumunan orang di sana. Tangan yang bersimbah darah itu menggengam kuat kantong bekas permen, sedang gitarnya terlepas. Kantong itu ternyata berisi uang receh dan beberapa lembar pecahan dua ribu yang sudah kumal.  Sebuah kertas kumal tergenggam rapi dibalik bungkus permen itu. Dengan gemetar aku mengambilnya.

"Adik ulang tahun, adik mau boneka dan permen."
Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar

Follow by Email