header Diary Jingga

Setengah Gila

Posting Komentar

 

Image : Twitter/avogado6

~Vie~

Bukan kematian yang kuinginkan. Harusnya kau merasakan dulu penderitaanku selama ini. Wanita yang telah kau buat setengah gila karena mencintaimu. 


Tumpukan seprei itu membuat darahku mendidih. Bagaimana mungkin aku mencuci jejak kemesraan suamiku dan istrinya. Sungguh ingin kuludahi saja wajah mereka yang tak tahu malu. 


Aku Marsinah. Wanita yang masih berusaha waras, yang hidup sebagai sapi perah suami, istri dan anak-anaknya. Setiap hari aku berangkat saat fajar dan pulang saat senja berganti jelaga, untuk bekerja sebagai kuli pabrik. 


Setiap awal bulan saat gajian, suamiku akan meminta uang untuk istri dan uang jajan anak-anaknya. Sedang anakku,  kering kerontang tinggal tulang berbalut kulit yang mulai hitam legam karena tak tersentuh asuhan ibunya.


Ayahnya hanya seorang pecundang. Tahu makan, rokok dan tidur. Tak pernah mau mengurus anakku dengan benar. Lalu kenapa aku tidak mati saja? Atau pergi dari jeratan sang keparat.


Mungkin lebih baik mati,  dari pada hidup dengan manusia keparat yang menyalin rupanya seperti malaikat. Tapi aku tak bisa mati meninggalkan anakku. 


Aku wanita setengah gila. Menjadi istri kedua dari seorang penipu berkedok dewa. Hidup segan mati pun tak mau. Bagai buah simalakama bertahan sakit, menyerah anakku mati. 


***


Hari itu mendung menggelayuti bumi. Rinai hujan membersamai langkahku yang terburu. Entah mengapa seharian perasaanku tidak enak. Teringat anakku yang tak seperti biasanya tak mau ditinggal pergi. 


Tubuhku mematung melihat keramaian di gang arah rumah kontrakanku. Entah mengapa seluruh badan bergetar hebat. Padahal aku tak tahu apa yang terjadi. Firasatku mengatakan ada yang beres.


Dua orang berseragam polisi menyeret paksa si keparat dengan wajah tertunduk. Entah apa yang membuatku berani menghadangnya sekarang. 


"Apa yang terjadi?" Tanyaku geram 

"Anakmu telah mati" katanya datar. 

"Bedebah, kau apakah anakku?" 

"Bukan aku, tapi Triasih" 


Kutinggalkan dia, beralih pada wanita iblis yang selama ini begitu ku benci. 


"Cuihh" kuludahi wajahnya 

"Membusuklah kalian di penjara!" 

"Saat kalian keluar, aku akan menuntut balas atas penderitaan yang sudah kualami" 


"Coba saja" jawab Triasih datar. 






Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email