header Diary Jingga

Surat Cinta Untuk Walikelas

7 komentar

Gambar : Pixabay

Vie 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini rutinitas tahun ajaran baru adalah rapat awal tahun dan pembagian tugas. Manusiawi jika saya berharap ingin jadi walikelas tujuh setelah beberapa tahun ke belakang memegang kelas sembilan terus. 

Apalagi cukup trauma ketika tahun kemarin panen bimbingan dengan masalah kompleks, mulai dari broken home, rokok, mogok sekolah hingga tawuran. Salah gaul, kurang perhatian dan lain sebagainya menjadi catatan merah yang cukup menguras emosi saya sebagai walikelas. 

Tahun kemarin penuh dengan drama dan airmata. Bukan hiperbola jika saya mengatakan demikian karena pada kenyataannya menghadapi serentetan kasus dalam waktu bersamaan cukup membuat jiwa raga campur aduk. Untungnya tidak ada kasus bunuh diri. Mungkin jika yang mengalami masalah terberatnya itu seorang perempuan, bukan tidak mungkin akan berpikir demikian. 

Tegar, anggaplah namanya itu. Salah satu siswa yang saya anggap mempunyai masalah paling rumit. Karena aku menganggap dia anak yang tegar. Dari cerita pamannya, dia diabaikan ibunya dari usia 5 tahun. Lalu tinggal dengan ayah yang kejam dan ibu tiri yang tak kalah jahat. Bersama adiknya yang juga laki-laki, menjalani masa kanak-kanak yang jauh dari kata bahagia. 

Pada saat SMP kelas satu bertengkar hebat dengan ayahnya dan hampir terjadi penganiayaan. Akhirnya Tegar dan adiknya tinggal dengan bibi yang seorang janda. Adiknya disayang, dia dibuang. Hidup terlunta-lunta dari rumah teman satu ke rumah yang lainnya. Tidur di emperan toko baginya lebih baik daripada di rumah bibi yang selalu bersikap nyinyir dan tak berbudi padanya. 

Di sekolah dia terkenal nakal, pindahan dari sekolah lain dan dianggap biang rusuh oleh guru-guru lain. Jarang masuk, kucel dan cuek pada banyak pelajaran. Jika di ajak ngobrol tak pernah memperlihatkan bahwa dia punya beban hidup. Selalu tersenyum dan teman-temannya suka sama dia. Karena sikapnya yang kocak. Sampai suatu peristiwa terjadi. Dia dinyatakan terlibat tawuran, ikut gabung bersama temannya di sekolah terdahulu.

Hampir semua guru murka atas kelakuannya mencoreng nama baik sekolah. Tak ada yang percaya penjelasannya karena bukti foto jelas menunjukkan ada wajahnya muncul di sana. Polisi datang mencari untuk diminta keterangan karena si korban terluka parah. 

Hari itu saya ada kesempatan untuk bisa berhadapan langsung dengannya. Tak ada senyum seperti biasa. Tak ada sikap kocaknya. Dia begitu takut mendengar keputusan kepala sekolah bahwa dia akan diberhentikan. Dia menangis, ya remaja laki-laki itu menangis dalam diam di hadapan saya. Sedang saya, tak tahu bagaimana menolong kesakitan nya karena saat itu belum tahu seberapa besar luka hatinya. 

"Bu, saya tidak mengerti rasanya jadi anak dari seorang Ibu. Tapi ketika saya bertemu dengan ibu, saya merasa punya ibu. Ibu selalu menyebut-nyebut kami anak ibu. Ibu sayang sama kami dan ingin kami lulus bersama tanpa ada yang tertinggal atau yang mundul di tengah jalan. Awalnya saya tak peduli dengan hidup saya. Tapi semenjak saya bertemu Ibu, dan ibu membawa saya pada teman-teman yang begitu baik. Saya merasa punya keluarga. Namun, hari ini saya menangis untuk pertama kalinya dalam hidup. Segetir apa pun hidup, saya tak pernah menangis. Tapi kali ini saya menangis karena begitu takut kehilangan Ibu dan teman-teman. Lalu, jika saya tidak sekolah di sini. Saya lebih baik hidup di emperan toko lagi sebagai tukang parkir dan hidup sendiri tanpa keluarga seperti yang sudah saya jalani selama ini."  

Itu surat cinta darinya untuk saya. Sekaligus pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan dia. Surat balasannya masih saya simpan. Dia menghilang, suasana kelas menjadi teduh. Tulisan "Save Tegar" yang di tulis teman-teman nya di dinding kelas menjadi protes atas keputusan kami memberhentikannya. Padahal kami  belum memutuskan hanya wacana ancaman, takut kalau dia ikut tawuran lagi. Nyatanya Tegar sudah ketakutan duluan dan memilih pergi. 

Dua hari menjelang, pamannya dari Jakarta menelepon saya. Menceritakan segala luka masa lalu Tegar. Dia meminta bantuan saya menemukan tegar. Dengan bantuan teman-temannya akhirnya dia ditemukan. Sore itu juga, sang paman menjemputnya. Pamannya memutuskan untuk mengadopsinya secara benar dan mengurus segala keperluannya. 

Bukan paman sedarahnya. Dia hanya suami dari bibinya dari ibu yang menghilang. Tapi paling tidak saya lega. Saat ini Tegar sudah masuk SMA di Jakarta. Lebih bersih dan lebih terawat. Dia anak yang cerdas sebenarnya. Namun, masa lalu tak memberi dia kesempatan untuk berkembang. 

Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

7 komentar

  1. Wah gimana ya kalau saya punya murid seperti ini?

    BalasHapus
  2. Ceritanya manis, tapi saya rasa endingnya masih kurang maksimal hihi

    BalasHapus
  3. Sedih sekali perjalanan hidupnya, beruntung karena dia bertemu dengan orang yang baik,coba jika bertemu dengan orang buruk, habis sudah masa depannya :(

    BalasHapus
  4. Keren, Kak. Namun, endingnya terasa tergesa-gesa. Penyebutan saya juga kurang konsisten menjadi aku di salah satu paragraf. Semangat selalu, Kak. 🙏😊

    BalasHapus
  5. Dinamika kita sebagai seorang pengajar nya ceu haji, menghadapi berbagai karakter siswa yang luar biasa...
    semoga terus diberi kesabaran :)

    BalasHapus
  6. Sedih sekali, membacanya. Apakah ini kisah nyata, Kak?

    BalasHapus
  7. Buu, ini anaknya kasian banget loh. Salut sih sama ibu yang bisa bikin anak ini nganggep ibu sebagai ibunya sendiri

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email