header Diary Jingga

Balas Dendam dari Kegagalan (Part 3)

Posting Komentar

 

Desain by Canva

Part 3
KEBISUAN IBU


"Kita tidak bisa melukis takdir sendiri. Kita pun tak punya daya untuk mengatur Tuhan. Kita hanya diminta ikhtiar maksimal sisanya Allah yang gariskan. Tinggal kita pilih mau ikhlas atau putus asa."


Tak ada yang lebih indah dari masa-masa SMA. Berbagai romansa kehidupan bertabur bunga dan rasa. Saat orang lain mengukir kenangan di masa putih abu dengan berbagai kejahilan dan kenakalan khas remaja. Masa remajaku cukup kaku. Bagai sisi mata uang yang berlainan. Di balik hiruk pikuk pujian, nyatanya aku sangat kesepian. 

Aku yang sedikit tertutup tak mudah membuka diri pada banyak orang. Sahabatku hanya satu, setelah aku menjadi ketua OSIS, dia pun sibuk dengan perannya sebagai ketua MPK. Kami hanya bertemu di ruang OSIS bukan di kantin sekolah seperti biasa. Kenanganku bersamanya hanya tentang bagaimana cara bolos dari kelas yang jam terakhirnya tak ada guru mata pelajaran, sedang di kelas sebelah ada walikelas super bawel. Akhirnya kami satu kelas jalan jongkok melewati kelas sebelah sebelum akhirnya berhasil kabur. 

Kamu bisa tebaklah, siapa dalangnya. Yap... Neng. Sahabatku sekaligus ketua kelas tergokil. Kejadian itu  pada saat aku kelas satu dengannya. Setelah itu kami berpisah tak pernah satu kelas lagi. Kelas tiga pun dia memilih jurusan IPS, sedang aku masuk kelas IPA. 

Di sinilah awal perjalanan  kegagalan kedua bagiku. Jika kelas dua adalah masa keberhasilanku. Kelas tiga aku mengalami masa titik balik kejenuhan dalam belajar. Aku merasa benar-benar kesepian. rutinitasku kembali pada sekolah dan rumah. Bahkan di rumah pun aku tak betah. Di sekolah sudah berkurang kegiatanku karena posisi ketua OSIS sudah berganti wajah. 

***
Ini tahun ketiga antaraku dan ibu. Tak begitu banyak yang berubah. Jarak yang telah tercipta semakin luas kami buat. Tak ada dari kami yang berusaha untuk menciptakan jembatan untuk kami berpeluk mesra.  Aku si kritis lebih banyak berdebat dengan ibu. Ibu lebih memilih mengabaikan sikapku dibanding membujukku. Ibu terbiasa hidup dengan bapak berdua diperantauan negeri orang. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bukan. 

Saat sedang butuh belaian ibu maka aku akan pergi ke rumah emak. Begitu aku memanggilnya, wanita paruh baya yang membersamai tumbuh kembangku. Aku tak pernah berkata apa-apa, cukup tidur dipangkuannya lalu dengan lembut dia mengusap kepalaku. 

"Kenapa? bertengkar lagi sama ibumu" tanyanya sudah maphum jika aku datang-datang memeluknya. Aku hanya mengangguk. Tak ingin bercerita panjang lebar. Pada ujungnya, emak selalu membela adiknya. Akulah yang keras kepala, akulah yang manja dan lain sebagainya. Jadi aku memilih memeluknya lalu menangis dalam bisu. 

"Kenapa ibu tak pernah menyayangiku seperti Emak?" 
"Mengapa begitu berat tangan itu terulur untukku?"
"Apakah hatinya telah mati semenjak kakinya melangkah meninggalkan subuh yang basah. Sementara seorang balita menangis kesepian" 

Itu yang selalu aku tanyakan. Namun hanya lewat jeritan hati, tanpa bisa terungkap. Aku canggung bercerita dengan ibu. Dalam benakku dunia ibu hanya bapak dan kedua kakakku. Entahlah, mungkin mereka punya memori masa kecil bersama ibu yang membuat ibu punya ikatan dengan mereka. Sedang aku? Ahh sudahlah, semakin aku ingat semakin sesak rasanya. Aku merasa tak memilikinya, tapi aku kehilangan berkepanjangan. 

Emak sudah menyiapkan makan siang di meja. Aku duduk bersiap menyantap hidangan kesukaanku. Masakan emak adalah juara. Dia sangat tahu persis apa yang kusuka dan apa yang aku tak suka. Dari usia lima tahun, emak menemani dunia ksespianku. Kami melewati lika-liku kehidupan dari kontarakan satu ke kontrakan lainnya. Sebagian kecil memori otakku mengingat kesakitan itu. 

***
1990, seorang wanita paruh baya beberapa kali mengusap peluh yang bercucuran. Mungkin sudah ke sepuluh kilo kami berjalan tanpa tujuan. Di sebelahnya bocah kucel berkulit gelap tengah asik menghisap es lilin  yang tinggal plastiknya saja, itu aku. Panas mentari siang itu membakar tubuhku yang semakin gelap. Tubuh mungil anak berusia 6 tahun yang terseok-seok mencari kabar ayah dan ibunya di perantauan. 

"Mak, mau beli es lagi. Ovi masih haus" kataku saat melewati sebuah warung yang terpajang termos es.
"Kan tadi sudah. Jangan banyak-banyak nanti batuk" 
"Capek, Mak. Kita duduk dulu di warung itu. Minta air juga gak apa-apa. Tapi kalau boleh satu lagi es nya" bujukku tak mau menyerah begitu saja.

Kulihat emak membuka dompet kucel yang sudah tak berisi uang sama sekali. Artinya perjalanan pulang pun akan kami lalui dengan berjalan kaki. Sekarang saja, belum jelas sampai mana kaki melangkah. Yang kami buru kabar dari ibu dan bapak yang sudah setahun ini menghilang tanpa kabar. 

"Mak, pulang yuk. Capek" rajukku
"Sebentar lagi ya, kita akan ke rumah orang yang baru pulang dari Arab. Siapa tahu pernah bertemu dengan ibu bapakmu" 

Rumah terakhir pun tak membuahkan hasil. Mereka yang kami datangi tak pernah bertemu ibu dan bapak di sana. Namun, kabar yang kami dengar malah tentang peperangan yang terjadi atara Irak dan Quwait. Saat itu Saudi Arabia terkena dampak dari invansi Irak atas Quwait pada tanggal 02 Agustus 1990. Aku yang saat itu belum mengerti apa-apa, hanya bingung menatap wajah kekhawatiran emak dalam peluh kelelahannya.

Kerinduanku pada ibu hanya terobati oleh sepucuk surat. Kini jangankan surat, sedikit kabar pun tak ada. Biasanya satu bulan sekali bapak atau ibu akan menelepon ke rumah tetangga seberang jalan yang rumahnya paling megah. Hanya itu rumah yang mempunyai pesawat telepon. Dari sana aku dan kakakku akan berebut suara ibu dan bapak. 

***

Begitulah masa kecilku, menjadi yatim piatu dari ayah dan ibu yang masih berraga namun tak terjamah. Saat anak-anak lain akan senang diantar ke sekolah untuk pertama kalinya. Aku cukup puas berangkat sekolah bersama tiga teman masa kecilku. Isum, Acuy dan Ujang. Entah di mana mereka sekarang. Merekalah yang memberi warna di masa-masa sunyi dulu. 

Kisah utuh masa kecilku akan diceritakan di part selanjutnya. Kalian nanti akan aku bawa berpetualang di masa sebelum ada gawai dan game online. 

Terimakasih masih setia mengikuti kisahku. Semoga menginspirasi.

"Tak ada yang perlu disesali dalam hidup. Sejatinya, hiduplah yang mendewasakan kita" ( Vie)


Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email