header Diary Jingga

ABSEN SAKIT SI PENULIS

7 komentar

Gambar : videmate

Vie

Memulai setelah lama berhenti, ibarat sekolah sudah lama absen sakit lalu masuk kelas lagi. Ada perasaan malu bertemu teman yang awalnya sudah akrab. Memulai lagi basa-basi dan mencari tahu apa yang tertinggal selama kita pergi. Merasa asing dan tertinggal saat mendengar kabar atau gosip terbaru di sekolah. 

Yah, itu yang aku rasakan setelah sekian lama meninggalkan komunitas menulis. Komunitas menulis bagiku seperti sekolah yang begitu mengajarkan banyak hal. Khususnya kelas menulis. Namun, ada yang lebih penting dari sekedar pelajaran bagaimana menulis dengan baik dan benar tapi aku kehilangan motivasi. 

Perjalanku sebagai penulis pemula berawal dari hobiku menulis buku harian. Aku belum percaya diri sih jika ada yang menyebutku penulis. Karena aku miskin karya. Tapi ada satu kalimat yang membuatku termotivasi. "Hey penulis besar juga awalnya adalah penulis pemula" kurang lebih begitu redaksinya. 

SMA terakhir berkarya dengan mengikuti berbagai lomba cerpen. Berawal dari buku harian lalu membuat kisah dari pengalaman pribadi sampai pada tahap menyikapi suatu masalah sosial dalam sebuah tulisan. Itu semua dilakukan dengan otodidak. 

Setelah itu tenggelam. Lama. Vakum dari kegiatan menulis apalagi baca. Menulis hanya sekedar melepas penat kesal dalam secarik kertas lalu buang. Satu kata, kadang satu kalimat dan paling banyak satu paragraf. Hingga akhirnya semua berubah. 

Aku menemukan sebuah komunitas baru di profesiku sebagai guru. Guru penulis. Dengan penuh rasa tak percaya diri dan miskin literasi. Aku mulai bertutur lagi dengan lingkungan. Dengan anak-anak didikku yang dinamis. 

Hingga sebuah penghargaan kepenulisan di usia yang tak lagi muda membangkitkan lagi gairah menulisku. Masuk lagi lebih dalam dalam komunitas menulis perpustakaan. Mendapatkan ilmu lalu mempraktekannya membuatku menggila lagi. Tapi ironisnya aku merasa ditarik dari belakang sejauh puluhan mil jauhnya. 

Mendengar dan membaca berbagai istilah baru kepenulisan dan tekhnik menulis membuatku melongo. Kemana saja aku dulu. Begitu banyak yang kutinggalkan. Sampai pernah merasa ingin berhenti saja. Aku bukan penulis, hanya seorang guru yang mimpi jadi seorang penulis. 

Aku diam. Tidak menulis lagi. Mencoba mengingkari panggilan hati untuk menggerakkan pena. Akhh... Tulisanku jelek, tak berbobot. Mana ada yang mau baca. Begitu terus sampai lupa caranya menulis.

Lalu seseorang memberi kabar tentang komunitas yang mengharuskan anggotanya menulis setiap hari dengan berbagai tantangan dan waktu yang dibatasi. ODOP, one day one post. Aku mengenalnya lewat RWC, ramadhan write challenge. 

Aku beranikan lagi menulis, karena sudah ada rule aku harus menulis apa dan dibagaimanakan tulisanku. Aku tidak terlalu kesulitan. Bukan karena bisa. Tapi aku berusaha menyembuhkan diriku dari kesakitan akut tidak percaya diri. 

Walau penulis -penulis hebat yang lalu lalang setiap harinya, aku berusaha masa bodoh. Aku fokus saja menyelesaikan tulisanku. Setoran yang penting, tak peduli berapa orang yang menyukai dan berkomentar. Toh mereka lakukan hanya sebuah keharusan syarat untuk like dan comment. Aku pun demikian.

Hingga aku tersadar. Mau sampai kapan tak peduli, lalu untuk apa aku menulis kalau aku hanya mengejar target apa yang ku capai setelahnya. Akhirnya aku putar haluan. Membaca dengan hati setiap tulisan yang menarik hati. 

Ku comoti satu dua diksi. Kuresapi selaksa peristiwa sekitar. Agar aku bisa menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Tapi sayang, aku termasuk orang yang hanya senang membeli buku lalu menyusunnya sedemikian rupa tanpa tahu kapan menyelesaikan bacaannya. Akhirnya jadilah aku penulis yang miskin literasi bacaan. Hanya mengandalkan perasaan dan permainan kata. 

Sepertinya aku harus segera taubat. Jika tidak ingin rasa malas membacaku bertambah akut. Anehnya, membaca status orang malah hobi. Aduhh, dasar aku. Kapan taubatnya? 

Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

There is no other posts in this category.

7 komentar

  1. Bangun dr tidur panjang, terus melangkah maju hingga akhirnya mencapai tujuanmu. Semangat ya Kak, setiap org spesial, bandingkan diri kita hari ini dengan diri kita yg kemarin. Nah, kakak mulai bangkit hari ini, itu kemajuan bangus. Semangat Kakaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah... Semoga bisa... Terimaksih yaa kak...

      Hapus
  2. Masya Allah..keren tulisan.a 👍👍

    BalasHapus
  3. Sekilas jadi reminder diri nih mba. Sempet banget ada di fase-fase yang demikian juga. Lumayan tertohok setelah membaca. Terimakasih sudah menulis tulisan ini. Semangat mengejar keterlewatan ya mbaa💕

    BalasHapus
  4. Sama-sama, mencoba bangkit menyemangati diri dan mencari dukungan ☺️

    BalasHapus
  5. Aku malah ngaku-ngaku penulis bukan teroris. Hehe.
    Padahal kalau disebut miskin karya, memang belum ada buku apapun yang udah aku terbitkan. Tapi nanti mah mau ah, barengan yuk Buk. Hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email