header Diary Jingga

Sebotol_Kisah_Haru_di_Ramadhan_pertama⁣

Posting Komentar
Foto : Pixabay
.⁣
Part 11
.
Oleh Vie ⁣
.⁣

"Ciiiitttt..." Suara ban berdecit dengan aspal sore itu. Sebuah truk bermuatan buntal oleng menabrak sebuah becak yang terparkir di pinggir jalan,  nyaris ringsek. Tak ayal seorang kakek tua terpental. Tubuh ringkihnya terbang lalu terjerembab di bebatuan. Tangannya mengepal kuat pada sekantong baju yang dipegangnya. Tangan keriputnya menggelepar lalu terkulai. Darah segar mengalir di pelipisnya. Dia terpejam. ⁣
.⁣
Tergopoh-gopoh seorang pria bertubuh buntal keluar dari balik kemudi truk itu. Dia gagal mengerem , sontak membelokkan kemudi ke arah kiri. Menabrak becak lalu terperosok pada sebuah gang. Dia selamat, namun dia telah mencelakai orang lain. Apa mau dikata, dia lupa mengecek kondisi truknya. ⁣
.⁣
Tak lama orang berkerumun, semakin lama semakin banyak jumlahnya. Tangan supir truk itu dikunci oleh dua orang, takut kabur. Dia pasrah, ini salahnya. Lalu mereka membawa pria buntal itu ke pos polisi terdekat. Sementara kakek tua tewas seketika. Mayatnya ditutupi oleh kardus. Polisi yang akan memeriksanya. Dalam waktu singkat , lokasi sudah penuh dikelilingi orang berdesak-desakkan ingin tahu kejadiannya. Siapa kakek tua itu? Orang sibuk bertanya-tanya dan mencari identitasnya. ⁣
.⁣
Melihat kerumunan orang ramai dari kejauhan aku penasaran. Ku urungkan niat untuk pulang.   Sedikit gemetar melihat mayat yang tertutup kardus, tak tega melihatnya. Sesaat aku berniat untuk pulang saja. Tak ingin berlama-lama di sana. Namun, langkahku terkunci di tempat. Ketika angin menyibak kepala korban yang tertutup koran, untung tubuhnya sama kardus jadi tak tersingkap semua. Sebentar, aku seperti mengenali wajah teduh itu. Walau darah memenuhi pelipis wajahnya, aku masih mengingat wajah renta itu. Bibirnya tersenyum, senyum yang pernah aku lihat.
.
Memori otakku mencari referensi data hari-hari ke belakang. Saat Ramadan hari pertama. Tepat hari pertama juga aku bekerja di tempatku sekarang. Kakek tua dan seorang bocah kecil pembeli sebotol sirup. Yah benar, aku masih mengingat senyum itu. Tiba-tiba tubuhku lemas menghampiri lalu terduduk di samping tubuh kaku itu. Menangis, seolah dia adalah keluargaku.

"Mbak, mengenal korban?" Tanya seseorang, aku hanya mengangguk lemah lalu menggeleng. Aku baru bertemu kakek ini sekali saja. Tapi entah kenapa rasa sakit begitu mengikat sesak.
"Dimana cucunya?" Tanyaku pelan.

"Dia sendirian Mbak, sepertinya tukang becak"

Tiba-tiba bagai tersengat listrik aku terperanjat lalu bangkit, celingak-celinguk mencari. Dimana anak itu? Bagaimana dia bisa tak bersama kakeknya. Apa dia di rumahnya? Apa ada keluarga lain di rumahnya? Bagaimana kalau sendiri.

"Mbak, sepertinya kenal kakek ini, bisa ikut kami untuk memberi keterangan. Identitas korban tak ditemukan" kata seorang polisi bertubuh tegap.

" saya tidak mengenalnya pa. Saya pernah bertemu satu kali saat dia belanja di minimarket tempat saya bekerja bersama cucunya."

"Berarti ada keluarga yang ditinggalkan. Baiklah mbak, jika nanti anda bertemu cucu atau keluarga lain dari korban, tolong segera ke rumah sakit menyusul ya"

Saya hanya mengangguk ragu. Bagaimana aku bisa bertemu dengan anak itu, sementara nama dan tempat tinggalnya pun aku tak tahu.
Sementara itu korban sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat.

.

Dimana aku bisa menemui anak kecil itu. Aku masih mengingat binar mata bahagianya saat menerima coklat dariku. Sejak saat itu aku menunggu kedatangan mereka lagi. Entah mengapa, aku merasa mereka seperti keluargaku. Siapa namanya?
.
Maaf yaa pembaca, kakek Yusuf harus meninggal. Kita lihat perjuangan Yusuf ke depan tanpa kakek di part berikutnya 🙏🙏
Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email