header Diary Jingga

Rahasia Naura 2

4 komentar


Gambar : by Angelique Downing

Oleh : Vie 

Part 2

Ini hari ketiga aku mengurung diri di kamar. Aku masih tak mau berbicara pada Ibu. Aku terluka. Bagaimana mungkin selama 20 tahun Ibu membohongiku. Dia tak sepatah pun berkata. Aku anak siapa?

Bukan kegagalan pernikahan yang membuatku terluka. Tapi rahasia ibu yang menyakitkan. Siapa ibuku. Benarkah aku terlahir dari rahim wanita gila. Aku muak mendengarnya. Aku tak percaya. Bagaimana mungkin aku yang cantik dan cerdas terlahir dari seorang wanita gila.
Suara notifikasi WhatsApp menggangguku
'Kau sudah tahu sekarang?'
'Kau hanya anak wanita gila'
'Jangan mimpi menikahi seorang dokter'
Pesan itu lagi, padahal aku sudah memblokir nomor sebelumnya. Kini ada lagi pesan dari nomor baru yang tak ku kenal.

Aku beranikan diri untuk menghubungi nomornya. Tersambung, dua kali panggilan lalu terputus. Dan saat ku hubungi lagi nomornya sudah tak aktif. Kali ini aku tidak memblokirnya. Aku akan tantang seberapa gigih dia menggangguku. Rasanya aku tak punya musuh selama ini. Dan Ardi, aku merasa tak punya saingan untuk mendapatkan cintanya. Malah dia yang mengejarku dan berjuang mendapatkan hatiku.

Ardi Abimanyu, kami berkenalan 2 tahun yang lalu saat aku mengantar makan siang untuk Ibu di puskesmas. Dia baru saja ditugaskan di desa kami. Datang dari Jakarta, dengan penampilan sempurna. Ganteng, ramah dan pintar. Siapa yang tak tertarik. Tak jauh dari rumahku, dia mengontrak sebuah rumah milik pak RT.

Di desaku, rata-rata gadis seusiaku sudah menikah. Bisa dibilang hanya aku saja gadis yang sekolah sampai perguruan tinggi. Aku sendiri tinggal di Jakarta. Hanya sayang, bakat bidan ibuku tak menurun padaku. Aku lebih menyukai filsafat dibanding dunia kesehatan. Diterima di UI dengan mudah karena kecerdasanku. Sebulan sekali aku pulang ke desaku untuk menjenguk ibu yang kini tinggal sendiri. Ayah sudah meninggal 5 tahun yang lalu.

Tak lama gawaiku menjerit. Tampak wajah Ardi menghiasi panggilan. Aku abaikan. Lima panggilan dan aku masih mengabaikannya. Aku malas, pikiranku masih fokus pada jati diriku. Lebih tepatnya aku kecewa. Bagaimana dia bisa menyerah begitu saja pada keputusan ayahnya. Sedang dia pernah berkata akulah hidupnya. Akulah masa depannya. Persetan dengan semua itu. Dia hanya laki-laki lemah yang tak bisa mempertahankan kebahagiannya.


Malam itu, ayah Ardi menelepon ibu. Dengan wajah pucat ibu menerima panggilannya. Sampai kini aku tak tahu apa yang dikatakan ayahnya Ardi pada ibuku. Ibu hanya berkata dengan lemah. Bahwa aku dan Ardi tak mungkin menikah. Ayah Ardi memutuskan pertunangan sepihak. Aku tak terima.
"Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? Jangan karena kita orang desa bisa diperlakukan semena-mena. Aku punya harga diri" kataku berapi-api.
"Sabar sayang, semua pasti ada hikmahnya" jawab ibuku lemah
"Mah, jelaskan apa alasannya? Mama tadi menerima telepon cukup lama. Apa yang dia katakan?" Ibuku hanya membisu.
Lalu aku membuka gawaiku.
"Apa karena ini?" Dia tampak terperanjat luar biasa membaca pesan itu.
'Kamu anak orang gila'
'jangan mimpi jadi istri dokter'

Begitu bunyi pesan beberapa hari ke belakang  yang aku abaikan. Kini aku mulai memikirkannya lagi. Yah, dulu semasa aku sekolah dasar ada temanku yang mengejek bahwa aku anak orang gila. Ibunya yang melarangnya main denganku. Itu membuat Ibu murka dan mendatangi rumahnya. Setelah itu tak ada yang berani mengataiku anak orang gila.

"Benarkah kata orang-orang itu Mah? Kalau aku anak dari..." Tanyaku ragu. Mengingat kejadian tempo dulu.
"Aku... apa benar aku anak orang gila?" Aku tak dapat lagi menahan sesak.
 Sakit. Aku ingin semua ini hanya bohong belaka. Aku bangga jadi anak dari ibuku. Bukan kata gila yang aku bebani.  Tapi bagaimana mungkin ibu membohongiku selama ini. Bahkan aku sebentar lagi menikah. Harusnya ibu bercerita tentang nasabku. Aku butuh wali bukan? Jika pun ayah masih ada, aku tetap harus mencari ayah kandungku. Jika itu benar. Atau ayahku benar ayah Rahman namun dari ibu berbeda. Ahh aku putus asa.

Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar

Follow by Email