header Diary Jingga

Pertemuan Terakhir

5 komentar

 Foto : pixabay.com

 Vie

Aku sedang menemani putraku belajar di rumah saat sebuah panggilan masuk. Aku lihat layar androidku. Mas Haga ternyata yang telepon. Cepat aku angkat, karena rindu begitu mendera.

“Assalamulaikum, Mas. Gimana kabarnya. Kamu sehat kan?” Kejarku.

“Waalaikumsalam sayang. Jangan khawatir semua akan baik-baik saja”

Tak terasa bola mataku mulai berkaca. Aku masih dapat medengar suara suamiku jelas.

“Keluarlah sayang. Aku di depan rumah. Bawa si kakak ke teras. Mas ingin melihat kalian”

“Apa Mas, kamu pulang” Setengah berlari aku menuju pintu depan.

“Mah...Mau kemana?” Tanya Rangga putraku

“Ehh Nak, ayo ke depan. Papa ada di depan”

“Yeaayy...  Papa pulang...!” Serunya kegirangan lalu segera beranjak dari duduknya dan mengekoriku.
***
“Papah...!”

“Tetap di sana sayang. Di teras sama Mama ya” Seru suamiku yang berdiri di luar pagar rumah.

“Rangga kangen papa. Rangga pengen peluk papa”

“Sini sama mama dulu sayang. Papa masih sakit” Dadaku sesak. Kuraih pergelangan tangan mungilnya. Lalu memeluknya.

“Papa juga kangen sama kakak dan mama. Kakak sabar ya, nanti kalau papa sudah sehat, kita main bareng lagi ya, Nak”

“Papa cepat sembuh ya. Papa makan yang banyak. Kakak nurut sama bu guru dan mama, Pah. Kakak selalu cuci tangan dan makan masakan mama. Kakak juga gak main ke luar.” Tutur putraku polos

“Anak Papah yang hebat. Jagain Mama ya sayang. Jagain adik bayi juga ya”

Aku sudah tidak bisa lagi membendung airmata. Ku usap perutku yang sudah menginjak bulan  ketujuh.

“Mah...Jaga kesehatan ya. Jaga Rangga dan kandunganmu”
Aku hanya mengangguk lemah.

“Papa berangkat ke  rumah sakit lagi ya” lanjutnya berat.

“Papa hati-hati ya. Kakak bangga sama Papa. Papa dokter yang hebat”

“Hati-hati ya, Pah” suaraku tercekat

“Assalamualaikum...” Mas Haga melambaikan tangan, tersenyum menatap kami. Lalu memasuki mobil dan berlalu.
***
Tiga hari berlalu sejak kepulangan suamiku. Tapi belum juga dia menghubungiku lagi. Suamiku seorang dokter di rumah sakit rujukan pasien covid-19. Sudah  sebulan sejak wabah itu menyerang dia jarang pulang ke rumah. Dia habiskan waktu di rumah sakit.

 Sampai kabar menyakitkan itu datang. Dua minggu yang lalu hasil rapid tes menyatakan suamiku terinfeksi. Sejak saat itu pula dia memilih tidak pulang ke rumah, memilih mengisolasi diri di rumah sakit.

Terhenyak dari lamunan saat gawaiku berbunyi.

“Assalamualaikum, Bu Sukma”

“Waalaikumsalam”

“Saya dokter Bagas. Ibu di rumah sekarang?”

“Iya, dok. Ada apa? Apa Mas Haga baik-baik saja?” Perasaanku gusar.

“Ibu, sabar ya. Dokter Haga kritis. Mohon doanya, kami akan berusaha sebaik mungkin”

Lemas. Terduduk dengan tangan gemetar. Saat itu ingin aku berlari ke rumah sakit. Memeluknya dan menemaninya di saat-saat terakhir. Tapi itu tak bisa kulakukan jangankan memeluk. Menjenguk pun tak boleh.

“Mah... kenapa menangis” Rangga mendekatiku

“Papa sakit sayang. Temannya barusan telepon. Kakak sholat yuk sama mama. Kita doain Papa” Putraku hanya menurut.

Kami sholat dan berdoa memohon belas kasih sayang  Allah SWT. Aku meminta hati ini dilapangkan atas apapun yang mungkin terjadi.

 Jika ikhlas menjadi jalan mudah suamiku kembali pada-Nya maka aku akan mencoba ikhlas. Namun, jika Allah masih meridhoi kami berkumpul maka akan ada keajaiban itu.

Menurut dokter Bagas, tiga hari sudah Mas Haga kritis dan ditangani khusus. Selama itu pula tak ada video call darinya. Biasanya setiap pagi dan malam menyempatkan menghubungi kami di tengah kesibukannya mengurus pasien.

Tepat tengah malam, dokter Bagas kembali menelepon.

“Bu, sabar ya. Dokter Haga sudah tiada”

Tak ada yang bisa terdengar lagi. Semua gelap. Segelap hatiku kehilangan lentera.
Aku harus bertahan.

 Samar ku lihat Mas Haga tersenyum tenang dengan pakaian serba putih. Matanya teduh. Bibirnya menyunggingkan ketulusan. Dia melambaikan tangan seperti saat pertemuan terakhir kami.

Selamat jalan, Mas. Aku akan bertahan demi anak-anak kita. Aku ikhlas melepasmu sebagai pahlawan covid-19. Semoga Allah menempatkanmu di sisi-Nya. Aku mengusap perutku lalu mengecup kening putraku.


Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

5 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kenapa tak, kok aku sukanya klo nulis fiksi sad ending. Apakah aku terlalu mellow yaa hiks

    BalasHapus
  3. Gak kuat, wilda berkaca-kaca bacanya bu��

    BalasHapus

Posting Komentar