header Diary Jingga

Diary Sang Guru

2 komentar

sumber : club.iyaa.com

Aku memperhatikan tubuh yang mematung di depan papan tulis di sebelahku.  Lima menit sudah dia berdiri mematung, teman- temannya hening. Tak ada yang berani menjawab pertanyaanku.

Aku mulai mengatur ritme nafasku agar tak ikut emosi. Membawa emosi yang berlebih saat memulai pelajaran akan berdampak kurang baik bagi jalannya pembelajaran. 

Sebenarnya tidak tega membiarkan dia terus berdiri seperti itu. Tapi sepuluh menit yang lalu dia baru saja mengamuk di kelas. Padahal tubuhnya ringkih kecil untuk anak seusianya. Empat kursi barisan depan dia dorong  dan jungkirkan. Mungkin bila kuat dia akan melemparkannya. Sorot matanya begitu marah, terluka. 

Entah apa yang merasukinya.  Baru sepuluh menit yang lalu aku masuk kelas. Mungkin saat pergantian jam pelajaran, kekacauan itu datang. Sehingga seluruh kelas tampak amburadul. Saat aku masuk semua siswa sedang berdiri. Ada yang di kursi ada yang sampai naik meja, semua wajah tegang melihatnya mengamuk. 

“Ada yang bisa menjelaskan, apa yang terjadi?” kataku mengulang pertanyaan.
Hening.
“Yang mana ketua kelasnya?” 
“Sakit, Bu. Tidak masuk hari ini” jawab seorang siswi 

“Namamu siapa...?” tanyaku menatap gadis itu. Dia bergeming. 
Mata itu memerah kemudian menangis. Dia menangis dengan gumaman yang kurang jelas. 

“Huhuhuuu... tema-tema heledek hu... huhuhuhu...” aku terpaku 
“Siapa?” tanyaku lembut
“ yaki-yakinya” 

Aku mengedarkan pandangan menatap satu-persatu siswa di kelas itu. Semua menunduk. 

Yah, mereka belum mengenalku. Baru seminggu ini aku pindah mengajar di sekolah ini. Mereka hanya tahu aku walikelas baru mereka, yang rencananya hari ini akan memperkenalkan diri. Kepala sekolah sudah memberi tahu mereka, bahwa aku akan menggantikan Bu Widi, walikelas mereka pada hari ini di jam pelajaran kedua yaitu bahasa indonesia.  

Aku mempersilahkannya duduk. Rosa nama anak itu, dikasih tahu salah satu siswa. Aku meminta semua siswa membereskan meja dan kursi  bekas kekacauan yang tadi terjadi.

Memperkenalkan diri seramah mungkin, berharap mereka bisa nyaman menerima keadaanku. Dan melanjutkan mengenal nama siswaku satu-persatu di kelas itu. 

kasus Rosa, aku tunda dulu sampai nanti jam istirahat. Aku akan memanggilnya ke ruanganku.

Bel istirahat berbunyi. Aku mengakhiri kelas bahasa Indonesia dengan senyum bahagia di tengah-tengah siswaku. Mereka senang  dengan berbagai cerita menarik yang kubawakan. Termasuk Rosa, matanya kini berbinar. 

“Rosa, mau tolong ibu ga?” tanyaku hati-hati
“Iahh auu hu” jawabnya semangat

“Ibu ga tahu, jajanan yang enak di sekolah ini. Ibu bisa minta tolong dibelikan sesuatu yang enak untuk mengganjal perut” keningnya mengerut.

‘ Apa aku kecepatan bicara padanya ya’ gumamku
“Ikut ibu yuk ke bawah” ajakku sambil menggamit lengannya. Dia bahagia. 

***
“Wahhh, Bu Vivi sudah akrab saja sama Inces”  sapa Bu Nindi tatkala aku memasuki ruang guru dengan Rosa yang disebut  Inces. 

“Iyah nih, Bu. Tadi Rosa menemani  makan bakso Mas Jum di kantin” jawabku sambil nyengir. Sedang Rosa kulihat senyam –senyum bahagia tebar pesona. 

Dengan sigap dia menyalami bu Nindi dan semua guru yang ada di ruang  guru. Aku takjub. 

“Ibunya Inces pindah. Alhamdulillah dapat gantinya.” Celetuk Pak Dirga
“Siap-siap saja sibuk dengan dramanya ya, Bu” Bisik Bu Jenny. 

Aku tak begitu menghiraukan komentar teman-teman sejawatku. Ada hal yang lebih penting yaitu Rosa. 

“Baksonya enak tadi?” aku mengawali percakapan dengan Rosa. Aku membawanya ke mejaku. 

“Eyak hu” 
“Rosa suka?” dia mengangguk senang
“Tadi kenapa teman laki-lakinya, nakal sama kamu?” tanyaku pelan-pelan

Dia menjawab dengan panjang lebar. Beberapa kali aku mendekatkan telinga dan meminta dia mengulang kalimat yang belum lengkap kucerna. 

Panjang lebar, tetap intinya teman laki-laki meledeknya katanya. Hanya itu yang aku bisa tangkap, selebihnya dia berbicara seperti meracau. Dia berbicara dengan bahasa  yang kurang jelas, aku cukup kesulitan mencernanya. 

Rosa gadis remaja, dengan postur dan tingkah masih seperti anak kecil usia 8 tahun. Padahal dia sekarang sudah duduk di kelas sembilan. Artinya usianya sekitar 14 atau 15 tahun. 

Bentuk rahangnya kurang simetris, lebih condong ke kanan. Mungkin itu yang membuat bahasanya tidak jelas. Dia kurus,pendek. Berkulit putih pucat. Perawakannya memang seperti anak kecil. Diusianya yang sekarang.

***
Dari informasi yang kudapat dari rekan-rekanku sesama guru, Rosa adalah salah satu murid berkebutuhan khusus. 

Emosinya mudah tersulut. Sering cari perhatian. Sehari dia bisa sampai 10 kali ke ruang guru, sekedar melaporkan teman-temannya yang katanya nakal. Padahal dari keterangan teman-temannya malah seringnya Rosalah yang memulai semua kekacauan. 
Kita tak bisa menuntut anak seusia SMP untuk bersikap dewasa. Terus-menerus mengalah membuat temannya juga jengah. Begitu cerita dari Bu Nindy.

Akhirnya Rosa tak ditemani, dengan dalih itu dia sering ke kantor untuk mengadu lengkap dengan tangisan begitu Akukatanya. Jadi tambah penasaran dengannya. 

Saat pulang kupanggil  beberapa perwakilan kelas ke ruanganku. 

“Silahkan ceritakan pada ibu mengenai Rosa” kataku mengawali. Ada Daru, Nisa, Rahma dan Ilyas. 

“Nisa yang paling tahu Rosa bu, dia tetangganya” kata Rahma

“Tapi kejadian kemarin kan Ilyas yang mulai, Bu” kata Nisa menimpali.

“Ihhh, aku kan Cuma pinjam penghapus. Daru itu saksinya” seru Ilyas membela diri

“Iya bu, Ilyas pinjam penghapus. Rosa ngomel – ngomel ga jelas sambil melotot. Aku bilang gitu aja melotot”  jawab Daru mengakui peranannya dalam kekacauan tadi pagi. 

“lalu?” tanyaku memancing

“Dia ngamuk” jawab keempat anak itu kompak. 

“Apa dia sering seperti itu?” 

“Dari kelas tujuh bu” 

“Baik, terimakasih karena kalian sudah mau jujur. Untuk selanjutnya, usahakan jangan pancing amarah Rosa ya. Maklumilah dia, karena dia tidak seperti kalian. Dia berbeda dan berkebutuhan khusus. Anggap dia sebagai adik yang harus kalian jaga. Jika itu adik kalian sendiri atau kalian yang seperti itu bagaimana? Jadi ibu harap, jangan membuat masalah sama dia tapi tetap temani dia ya.” 

“Iya Bu” jawab mereka kompak.

***
“Bu Vivi...!” Tiba-tiba setengah berlari bu Nindy menghampiri dengan wajah pucat.
“Ada apa bu?” kami yang berdiri bersamaan 
“Iiituu... Ahh hayu ikut saya” kata Bu Nindy gugup. Kamipun tergesa mengikuti langkahnya.

Tampak pemandangan yang menegangkan. Seorang lelaki setengah baya mengacung-ngacungkan celurit.
“Siapa tadi yang meledek anak saya hahh...!” 

Pak Dirga disusul guru-guru yang lain sudah hadir. Kami ibu-ibu terdiam. Tak berani bertindak.

“Tenang, Pak. Ada apa ini?” Jawab pak Dirga sambil  mendekati si Bapak perlahan.

“Bapak jadi guru kerjanya apa? Anak saya diejek, dipukul bapak diam saja?” katanya lagi masih dengan muka merah padam. Tetap sambil mengacung-acungkan celurit. 
“Tenang Pak, ayo kita bicarakan di dalam” Jawabku selembut mungkin. Bapak itu mendelik melihatku. 

“Ibu siapa? Mana Bu Widi? kenapa ibu melindungi bocah-bocah itu, hahh?”  
tanyanya lagi tak kalah garang melihat empat siswaku yang tadi berada tepat dibelakangku. 

“Buuu...kan begitu Pak. Saya coba jelaskan yaa pak” kataku hati-hati

“Jika ibu tak bisa mendidik anak-anak ini. Biar saya yang yang mendidiknya” Katanya lagi sambil melangkah. 

Serentak anak-anak menjerit dan lari  ketakutan menuju ruang guru disusul bu Nindi yang berniat menenangkan.
“Paa...!” Tergopoh-gopoh Rosa datang.

“Ituu ihu aik ama oca, beliin aaco” kata Rosa mendekati bapaknya. Akhirnya laki-laki separuh baya itu melunak. 

“Maafkan saya, Bu. Saya hanya ga ingin anak saya terus-terusan diledek. Saya sudah sering menutup telinga atas aduannya. Tapi kali ini saya tak terima anak saya dipukul” 

“Mila memang dipukul siapa? Tadi tidak cerita ke ibu” 

“Tadi hu, di  ini nih” jawabnya menunjuk kepala. 
“Siapa anaknya, bilang sama gurumu” jawab Bapak itu kembali geram
“Si Dauu huu” Aku terkesiap. Tapi tak percaya mendengarnya.  Tadi Daru bercerita dengan polos, aku yakin dia jujur. 

“Baiklah, Pak. Kita bicarakan di dalam. Tapi sebelumnya  boleh simpan dulu celuritnya. Anak-anak takut melihatnya” kata Pak Dirga menengahi. 

“Ohh iya, tadi saya sedang di  sawah Pak, saat anak saya datang sambil menangis”

***

Kami semua sudah berkumpul diruang guru yang sudah sepi karena  jam pulang sekolah sudah sejak tadi. Hanya tersisa saya, Pak Dirga dan Bu Nindi beserta empat anak tadi yang belum pulang. Sekarang ditambah Rosa dan bapaknya. 

Empat siswaku tampak pucat di sudut ruangan ditemani Bu Nindi. 

“Tak apa-apa, ayo sini!” ajak Pak Dirga pada anak-anak itu. 

“Adakah diantara kalian yang memukul kepala Rosa, atau teman lain di kelas?” Serempak mereka menggeleng. 

“Iuuh Si Dau” Rosa kukuh.

“Maaf Pak, Bu. Bukan Daru yang memukul tapi Rosa.  Rosa memukul lengan Daru tadi”

Jawab Nisa memberanikan diri. Mungkin dia yang paling berani karena dia sudah kenal Bapaknya Rosa karena mereka bertetangga. 

“Benar begitu, Rosa?” tanyaku lembut . Dia menjawab dengan meracau tetap menyebut Daru nakal. Kemudian mulai menangis. Bapaknya hanya tergugu melihat anaknya. 

“Rosa tak boleh bohong yaa. Tanpa berbohong pun ibu dan teman-teman akan sayang sama Rosa” Aku memeluk bahu Rosa. Menguatkannya. 

“Iyaa Huu...” 

“Anak saya memang berbeda, Bu. Tapi bukan berarti anak saya harus terus diledek teman-temannya” seru bapaknya lemah. 
“Tidak, Pak. Jangan berkata begitu. Setiap anak mempunyai keistimewaannya sendiri. Mungkin Rosa terhambat dalam belajar dan berbicara. walau baru sehari ini saya melihatnya, saya rasa dia anak yang sopan. 

Jika kita mau bersabar, pasti ada sesuatu yang istimewa dari dia. Mengenai teman-temannya, saya pastikan tidak akan terjadi lagi hal seperti tadi. Kami sudah sepakat untuk menjaga dan menyayangi Rosa.”

“Yahh, Bu. Rosa anak yang baik. Di rumah dia sering membantu ibunya. Namun, emosinya memang mudah sekali tersulut. 
Dia mudah menangis dan mudah marah. Apalagi jika kita tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya, maka dia akan membanting sesuatu. Dia anak bungsu saya, kedua kakaknya pun sama terhambat dalam belajar. Namun, hanya Rosa yang mengalami hambatan bicara. Saya Cuma petani biasa. Tidak mampu membawa Rosa berobat untuk terapi." Kata ayah Rosa panjang lebar.

“Baik anak-anak, kalian sudah dengar kan? Mulai sekarang kalian harus saling menyayangi yaa” kata Pak Dirga bijak.

“Ayo, salaman” lanjut Bu Nindi. Merekapun bersalaman dengan senyuman yang tulus. Mata Rosa tampak berbinar. Semoga ke depannya tak ada lagi drama seperti ini lagi. 

Kami mengantar Bapak beranak itu sampai pintu. Disusul oleh keempat siswaku yang lain, mereka pamit pulang. Aku, Bu Nindi dan Pak Dirga menarik nafas lega. Terbebas dari bencana  yang bisa saja terjadi, jika tidak segera Bu Nindi mengabari kami.  

***
“Bu Vivi...” seru Bu Tiara yang menjadi guru piket hari ini. Menghampiriku yang sedang menyantap bakso. Karena ulahnya mengagetkanku, aku hampir tersedak. 
“Inces tuh ngamuk lagi bawa-bawa sapu” 
“Allah... apa lagi ini? Tak bisakah aku habiskan dulu semangkok bakso ini . Aku lapar sekali dari pagi belum sarapan” kataku lemas. Bu Tiara hanya nyengir disambut kompak oleh guru yang ada di kantor 
“yang sabar yaa, Bos” komentar mereka meniru gaya Sopo pada serial anak di televisi. 









Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

2 komentar

  1. Kenyataannya ada anak seperti itu, walau tak 100% begitu. 🤭 Dan ada juga orangtua yang bersikap seperti itu walau tak seekstrim di cerita ini 🙂
    Begitulah suka duka jadi guru. Seru hahaha

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email