header Diary Jingga

Senandika Hujan

Posting Komentar

 

Image by Canva 


{Vie}


Aku bertanya kenapa hujan tak jadi datang. Padahal dia sudah berjanji lewat mendung. Tidakkah dia mengerti, aku menunggu begitu lama. 


Telah habis waktu dan energi kusiapkan hanya untuk menikmati sejuknya. Lalu kini mentari menyengat menyibak awan yang pergi setelah kabar hujan tak datang. 


Aku mematung kecewa. Jika hujan tak jadi datang kenapa sudah kubawa payung dan jas hujan. Bukankah hujan telah berjanji. Sungguh penantian yang sia-sia. 


Aku kembali duduk di taman ini. Menanti dengan harapan mungkin hujan sedang mempermainku saja saat ini. Mungkin nanti dia akan memberiku kejutan setelah mentari menyelesaikan tugasnya terbenam. 


Senja ini, kala mentari mengucapkan selamat tinggal lewat sandikala yang indah, aku mulai putus asa. Kubuang payung, ku lipat jas hujan. Aku hanya ingin melihatmu saja padahal. 


Derap langkah menyertai kekecewaanku padanya. Hingga gerimis datang memenuhi janjinya. Tipis, namun cukup menyegarkan ingatanku. Tak jadi kecewa. Paling tidak penantianku tak sia-sia. Walaupun terlambat hujan tetap datang, meski lewat gerimis. 



Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email