header Diary Jingga

Sebotol Kisah Haru di Ramadhan Pertama

21 komentar


Oleh Vie 

 Adzan ashar berkumandang saat seorang anak kecil bersama seorang kakek masuk ke minimarket tempatku bekerja. Tak ayal aku memperhatikan keduanya. Si kakek dengan baju lusuh dengan keringat bercucuran. Si anak tak kalah Kumal dengan ingus yang mengering.

"Mbak, kami mau beli minuman buat buka" sergah si anak dengan semangat.
"Silahkan adek, itu tinggal memilih" Jawabku ramah sembari menunjuk kumpulan botol warna warni yang tak jauh dari kasir.
"Yang paling murah yang mana, Mbak" bisik si kakek pelan.
"Harganya sekitar sepuluh sampai duapuluh ribu Pak, per botol.
Yang warna kuning oranye itu yang paling murah. Kalau yang lebih kental lebih mahal Pak" tuturku menjelaskan produk minuman yang terbuat dari campuran gula dan perisa buah dengan warna yang menarik.

Tak ayal membuat air liurku berdecak juga. Hari pertama puasa masih terasa lemas dan hausnya. Apalagi tiap hari harus merapikan dan memajang si manis cantik dengan warna-warni yang menggoda iman.

Ku lihat Si kakek masih mematung di depan kasir tempatku berdiri. Sementara Si anak matanya liar memegang dan memilih botol-botol warna warni itu.

"Kek, aku ingin yang ini" serunya mengangkat sebuah botol berwarna merah pekat dengan gambar buah kelapa.

Si kakek tampak terkejut. Dia merogoh sakunya. Menghitung uang recehan duaribu dan kepingan limaratus rupiah.

"Mbak, saya hanya punya uang segini. Saya minta tolong, katakan pada cucu saya botol yang dia pilih tidak dijual" tuturnya sedih.

Aku melihat kaca di mata renta itu. Dengan gemetar aku hitung uang uang recehan yang dia serahkan. Sembilan ribu lima ratus. Tak tega pula melihat ada asa yang begitu besar di mata sang anak yang masih asik memperhatikan botol-botol itu.

"Ini puasa pertama cucu saya, Mbak. Tadi sahur saya janji kalau dia lulus puasa sampai Magrib maka akan dibelikan minuman yang dia inginkan buat berbuka. Saya kira dia hanya pilih minuman kemasan tapi ternyata pilih yang di botol besar".

"Maafkan saya, Pak. Mungkin saya yang salah mengarahkan. Harusnya saya arahkan ke rak minuman kemasana. Tak apa, Bapak jangan khawatir ambil saja botolnya. Biar saya yang tambah kekurangannya. Doakan saja saya, ini hari pertama kerja saya. Semoga saya bisa betah dan berkah kerja di sini".

"Ngga bisa begitu, Mbak. Saya tidak berniat mengemis. Saya kerja Mbak. Kalau Mbak mau berbaik hati. Saya nanti akan kembali untuk membayar" katanya tak enak sambil menunjuk sebuah Becak yang terparkir di halaman minimarket.

"Hari ini, cuma satu orang yang pakai jasa saya, Mbak. Besok mudah-mudahan bertambah."

"Amin, Bapak jangan khawatir. Terserah Bapak saja, gimana enaknya. Tapi kalau pun tak di ganti, tidak apa-apa. Anggap ini sedekah saya di hari pertama."

"Terimakasih, Mbak. Jarang ada orang baik seperti Si mbak ini." Jawabnya sumringah.

"Le, sini bawa botol minumannya" Anak itu pun menghampiri dengan wajah yang bahagia.

Aku membungkus botol merah itu. Tanpa sepengetahuannya. Aku masukkan sebungkus permen. Lalu menyerahkan kantong belanjaan itu ke Si anak.

"Ini, Mbak tambahin hadiah buat adik karena bisa lulus puasa hari ini. Tapi bukanya di rumah ya. Besok puasa lagi ya"

"Wahh.." katanya berbinar. Tangannya sudah mau membuka kantong tapi ku cegah.

"Eits... Buka di rumah nanti. Ini rahasia" kataku sembari mengedipkan mata.

"Makasih, Mbak"
Dia tersenyum lebar lalu mengajak kakeknya pulang.

Ku lihat Si kakek mengayuh becaknya. Si anak duduk dengan bahagia. Aku menarik nafas. Hari ini begitu banyak yang membeli botol warna-warni itu. Bahkan ada yang sampai membeli lebih dari lima dengan varian rasa dan warna berbeda. Berbanding terbalik dengan Si kakek yang untuk satu botol saja dia harus harus mengencangkan ikat pinggang.






Vie
I am a simple woman. Penyuka warna jingga. Seorang Ibu juga seorang pendidik yang menggandrungi dunia kepenulisan. Volunteer di Komunitas Guru Belajar (KGB) Sukabumi dan Komunitas Guru Madrasah Menulis

Related Posts

21 komentar

  1. Masya allah baik banget mbaknya. Semoga Allah ganti dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin

    BalasHapus
  2. Ada ga ya di dunia nyata...

    BalasHapus
  3. Baik, siapa saja yang sudah hadir?

    BalasHapus
  4. Yang sudah hadir, silahkan langsung buat teks dramanya ya

    BalasHapus
  5. Seperti di hari-hari biasanya, pada jam istirahat Dafa dan Rena selalu menghabiskan waktu bersama dengan memesan makanan di kantin sambil berbincang-bincang. Namun siang hari itu, sikap Rena berbeda dari biasanya. Wajahnya terlihat murung, matanya sembab dan tidak semangat. Dafa pun mendekatinya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada sahabatnya.

    Dafa: Ren, tahu tidak kenapa ikan hidup di dalam air?
    Rena: Tidak tahu (dia menjawabnya dengan wajah cemberut)
    Dafa: Kenapa wajahmu murung?
    Rena: Ada masalah di keluargaku.
    Dafa: Masalah apa? Cerita sama aku, kita kan sudah lama bersahabat.
    Rena: Ini sulit. Biarkan aku sendiri dulu

    Dafa: Namanya masalah pasti rumit, Ren. Sudahlah ceritakan ke aku, jangan pernah menyimpan masalah sendirian. Apa gunanya kamu memiliki sahabat, jika tidak mau berbagi?
    Rena: Sudah satu minggu orang tuaku tidak akur. Mereka sering ribut di rumah hanya karena masalah
    sepele.

    Dafa: Memangnya ada masalah apa mereka bertengkar?
    Rena: Tidak tahu, intinya mereka merasa sudah tidak cocok dan ingin menjauh.
    Dafa: Sabar Ren, kamu banyak berdoa saja, agar hubungan mereka baik-baik saja.

    Rena: Makasih ya Daf. Berkat kamu ku merasa ringan dengan masalah ku. Setidaknya perasaan sudah lebih lega.
    Dafa: Nah gitu. Coba sekarang kamu tebak lagi. Kenapa ikan hidup di dalam air? (Dafa bertanya pada Rena sambil tersenyum untuk menghiburnya).
    Rena: Mungkin memang sudah takdirnya ��

    BalasHapus
  6. Judulnya: teman sejati
    Pemainnya:dafa dan rena

    BalasHapus
  7. Judulnya: teman sejati
    Pemainnya:dafa dan rena

    BalasHapus
  8. Nalika hadir Ustadzah udah log in lagi

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email